oleh

Pidato Wapres Adam Malik: Pancasila Hanya Mengatur Kehidupan Dunia Saja

BATAMBicara | Wakil Presiden Soeharto tahun 1978-1983 Adam Malik adalah pengagum sekaligus pengikut setia Tan Malaka. Ia turut membentuk Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) pada 7 November 1948. Tiga bulan setelah itu, Tan Malaka tewas ditembak di Kediri, Jawa Timur.

Bersama beberapa tokoh lainnya, Adam Malik melanjutkan eksistensi Parta Murba yang kerap dicitrakan berhaluan kiri pasca-ambruknya Partai Komunis Indonesia (PKI) usai peristiwa Madiun 1948, sekaligus mewarisi idealisme perjuangan Tan Malaka, setidaknya dalam periode itu.

Tokoh yang lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, tanggal 22 Juli 1917 ini adalah seorang politikus dan banyak yang tak menduga Adam Malik adalah salah satu sosok paling berpengaruh di rezim Orde Baru, dengan pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI (23 Maret 1978-11 Maret 1983) mendampingi Presiden Soeharto dalam satu periode selama lima tahun.

Mengutip buku karya Jeffrey A Winters, berjudul “Dosa-dosa Politik, halaman 133 – 134 KH Firdaus A.N, menyampaikan, Adam Malik pernah berpidato di acara Ulang Tahun Syarikat Islam ke-77, pada tahun 1982 di Balai Sidang Senayan Jakarta. Pidato yang berbunyi:

“Bagi kita orang Islam, tidak ada yang lebih baik sebagai pegangan yang melebihi Islam. Karena agama Islam mengurus urusan dunia dan akhirat, sedang Pancasila hanya mengurus urusan dunia saja.”

Adam Malik © Arsip/Wikipedia

Disini jelas agar peradaban masyarakat Indonesia didalam hidup berwarganegara dengan baik yang diatur Pancasila dan UUD 1945, serta menjalankan amalan-amalan ke Tuhanan, sesuai menurut agama dan kepercayaan yang dianut.

Kiprah Jurnalistik dan Politik

Kendati hanya mengantongi ijazah dari Madrasah Sumatera Thawalib, ia juga memiliki sedikit pengalaman berdagang, tapi Adam Malik lebih suka menulis. Ia kerap mengirim artikel ke Suratkabar, salah satunya adalah Pelita Andalas yang diedarkan di seluruh Sumatera (Basyral Hamidy Harahap, Kejuangan Adam Malik 1917-1984, 1998: 16).

Kemampuan dipIomasi Adam MaIik tak Iepas dari profesinya sebagai wartawan, yang ditekuninya sejak dekade 1930-an. Monumennya yang masih bisa dilihat saat ini adalah Kantor Berita Antara. la ikut mendirikan kantor itu pada tahun 1937.

Meski begitu, ‘Si Bung’ dan ‘Si Kancil’ (panggilan akrabnya) ini bukan cuma diplomat dan jurnalis. la juga seorang politisi tuIen, yang berperan sejak  awal kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat, bersama Sukarni dan Chaerul Saleh, ia menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok dan mendesak agar kemerdekaan Indonesia segera diproklamasikan.

Adam Malik merupakan sosok otodidak yang reputasinya mendunia. Dia adalah satu di antara sedikit orang yang mampu menempatkan Indonesia ke dalam posisi terhormat dalam pentas politik dan diplomasi internasional.

Adam Malik tidak hanya berkutat di bidang jurnalistik. Ia bahkan sudah berkecimpung di ranah politik sejak usia 17 tahun, atau sebelum hijrah ke ibukota. Dikutip dari buku Wajah Pers Indonesia (2006), Adam Malik memimpin Partai Indonesia (Partindo) cabang Pematangsiantar, lalu kemudian Medan pada 1934-1935 (hlm. 39).

Sembari tetap bergiat di Antara, Adam Malik terus melanjutkan petualangan politik sekaligus berjuang pada era pendudukan Jepang (1942-1945) hingga masa mempertahankan kemerdekaan (1945-1949).

***


Editor:saut/bb

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed