oleh

Terbaru: Penelitian Regimen Kombinasi Obat dan Stem Cell Efektif untuk Pengobatan Covid-19 Berbasis Isolat Virus

BATAMBicara | Jakarta – Penularan virus SARS-CoV-2 hingga kini masih terus berkembang. Berbagai upaya pencegahan dan pengobatannya pun tetap dilakukan, namun upaya pendekatannya adalah salah satunya dengan cara medis. 

Peneliti Universitas Airlangga (Unair) Dokter Purwati bersama Badan Intelijen Negara dan Gugus Tugas Nasional, sebagaimana meneruskan rilisan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Jumat (12/6) terus melakukan penelitian untuk memutakhirkan resep penyembuhan Covid-19.

Pihaknya melakukan penelitian terkait dengan regimen kombinasi obat dan juga jenis stem cell yang efektif. Regiman merupakan komposisi jenis dan jumlah obat serta frekuensi pemberian obat sebagai upaya terapi pengobatan. 

Titik tolak penelitiannya berdasarkan prinsip penyakit infeksi, yakni adanya konsep tiga sisi yang terdiri host, lingkungan dan agen. 

“Jadi manusia itu sendiri, virus itu sendiri, serta faktor lingkungan yang apabila dibuat sesuatu hal yang sedemikian rupa sehingga mendukung pertumbuhan virus tersebut,” ujar Purwati di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, pada Jumat (12/6). 

Upaya pengobatan yang didukung Gugus Tugas Nasional dalam percepatan penanganan Covid-19 merupakan rangkaian upaya dari pengujian dan pelacakan. Pengobatan yang  dilakukan bersifat medis dan nonmedis. Menurut perempuan bergelar doktor ini, pihaknya dan BIN terus meneliti dan menggunakan regimen untuk pengobatan medis. 

“Kombinasi obat-obatan yang sudah dilakukan penelitian dari obat-obatan yang sudah ada di pasaran dan kita teliti untuk potensi dan efektivitas obat tersebut sehingga indikasinya diperluas menjadi obat yang mempunyai efek antiviral terhadap SARS-CoV-2  yang berbasis dari virus isolat Indoensia yang sampelnya diambil dari pasien di RSUA yang telah mendapatkan sertifikat laik etik, melalui serangkaian proses,” lanjutnya.

Proses pertama yaitu uji toksisitas. “Apakah obat yang akan dipakai itu toksik atau tidak untuk sel tubuh kita,” ucapnya.

Kedua yaitu mengecek dan meneliti potensi obat yang digunakan tersebut seberapa besar daya bunuhnya terhadap virus Corona tersebut.

“Ketiga, meneliti efektivitas  obat tersebut berapa besar dan berapa lama berefek terhadap penghambatan dan penurunan jumlah virus,” lanjutnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed