oleh

Mengapa Harus KPPS?

Batambicara.id|Mengapa Harus KPPS? ……………… Oleh: Hendri Anak Rahman

Walhasil, pesta demokrasi limatahunan hampir usai. Dalam sejarah Pemilu di Indonesia, inilah mungkin pesta demokrasi yang membawa pilu.

Ratusan orang harus meregang nyawa, yang penyebabnya tak jelas karena apa.

Keterangan yang didapat hanya dua saja, pertama karena kelelahan, kata komisioner KPU, kedua karena ajal sudah sampai, kata seorang penguasa.

Benarkah karena kelelahan? Yuk kita amati bagaimana kerja KPPS yang selama ini dilaksanakan.

KPPS itu full bekerja hanya satu hari, atau boleh disebut 24 jam. Mulai dari pencoblosan, sampai kemudian penghitungan, dilanjutkan dengan membuat berita acara hasil pencoblosan dan menyalinnya ke format yang dikenal dengan C1.

Kalau pun lama di TPS, hal itu disebabkan karena banyak berkas yang harus diisi dan disalin. Sementara pemahaman anggota KPPS dalam mengisi berita acara hasil penghitungan tersebut berbeda-berbeda. Ada yang menguasai, ada juga yang tidak paham.

Dan pekerjaan itu bukanlah melelahkan sangat. Kalau itu disebut lelah. Nah, kalau kematian ratusan KPPS itu karena kelelahan, seharusnya kelelahan KPPS itu saat penghitungan.

Kembali ke sebab kematian ratusan KPPS. Apakah benar karena kelelahan? Mari kita lihat.

Tahapan rekapitulasi penghitungan suara tahun 2019 sama dengan tahapan pada pemilu 2009. Dan berbeda dengan Pemilu 2014 dimana, rekapitulasi suara ada di tingkat PPS atau kelurahan.

Kita bahas cara kerja pengrekapan suara di PPK.

Rekap suara di PPK dilakukan dalam rapat Pleno Tingkat PPK, dimana PPK dapat meminta bantuan dari PPS disetiap kelurahan disaat pengrekapan suara untuk suatu kelurahan. Dan PPS juga dapat meminta bantuan KPPS untuk satu TPS yang dihitung.

Artinya, KPPS yang bertugas dalam rekapitulasi di tingkat PPK itu hanya khusus di TPS-nya saja, setelah itu tidak ikut lagi. Artinya, jika rekap tingkat PPK yang hanya satu TPS itu menyebabkan KPPS wafat karena kelelahan, rasanya sangat berlebihan, karena mereka bekerja hanya membantu pleno PPK. Yang bekerja itu tetap PPS dimana TPS itu berada. KPPS sifatnya membantu jika dimintai katerangan jika ada data yang diragukan.

Kalaulah ada yang kelelahan, maka seharusnya yang lelah itu para PPK, karena lamanya mereka bekerja. Di tahun 2009 juga ada PPK yang meninggal karena kelehan ini, tapi tak sampai ratusan. Pun, kalau ada, hanya hitungan jari saja.

Nah, sekarang mengapa harus KPPS? Wallahu’alam

Yang pasti, KPPS adalah ujung tombak pemilik data. Mereka yang sangat tahu hasil di masing-masing TPS dimana mereka bertugas

Yang pasti lagi, mereka wafat karena ajalnya sudah sampai. 😭

Ontahlah gan…

Innalillah wa inna ilaihi raji’un

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed