Risalah

Saat Imam Hanbali Diusir dari Masjid, Terkabulnya Kekuatan Istighfar Penjual Roti

BATAMBicara 🔘 Imam Ahmad bin Hanbal Ra, (murid Imam Syafi’i) dikenal juga sebagai Imam Hanbali. Di masa akhir hidup beliau bercerita, “Suatu ketika (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju ke salah satu kota di Irak”, dalam manaqib Imam Ahmad beliau menuju Bashrah, padahal saat itu tidak ada janji sama orang dan tidak ada hajat sama sekali.

Akhirnya Imam Ahmad bin Hanbal Ra, berangkat sendiri menuju kota Bashrah.

Beliau meriwayatkan, “saat tiba di sana waktu Isya’, saya ikut salat berjamaah Isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian tiba-tiba saya ingin istirahat.”

Selepas shalat dan jamaah bubar, beliau ingin tidur di masjid, tiba-tiba sang pengurus masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya,

“Kenapa Syaikh, mau ngapain di sini? “Syaikh” dalam tradisi Arab bisa dipakai untuk 3 panggilan, bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu.

Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena Sang Imam kelihatan sebagai orang tua.
Pengurus masjid tidak mengetahui kalau beliau adalah Imam Ahmad, dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.

Di Irak, semua orang kenal siapa Imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadist, beliau hafal sejuta hadist, sangat shaleh dan zuhud.
Ketika itu belum ada teknologi kamera dan media sosial seperti sekarang, sehingga orang tidak tahu wajahnya, hanya saja namanya sudah terkenal.

Kata Imam Ahmad bin Hanbal, “saya ingin istirahat, saya musafir”, sambut pengurus masjid, “tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid”.

Imam Ahmad melanjutkan berceritanya, “saya didorong-dorong oleh orang itu (pengurus masjid) disuruh keluar dari masjid”.

Setelah keluar dari masjid, maka dikuncilah pintu masjid. Lalu Imam Ahmad ingin tidur di teras masjid.
Ketika sudah berbaring di teras masjid pengurus masjid datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. “Mau ngapain lagi, Syaikh?” tanya pengurus masjid.

“Mau tidur, saya musafir,” jawab Imam Ahmad. Lalu pengurus masjid berkata, “di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh,” lalu Imam Ahmad diusir kembali.

Imam Ahmad didorong-dorong kembali sampai ke jalanan.

Tepatnya di samping masjid ada sebuah rumah kecil. Rumah tempat tinggal yang kecil tersebut sekaligus untuk membuat dan menjual roti.

Saat itu penjual roti ini sedang mengolah adonan roti, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh pengurus masjid tadi. Saat Imam Ahmad sampai di jalanan, si penjual roti itu memanggil dari jauh, “mari Syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.”
”Baik,” kata Imam Ahmad.

Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti ini punya perilaku yang bisa dibilang unik, kalau Imam Ahmad mengajak berbicara, maka dia jawab. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafaskan istighfar, “Astaghfirullah”.

Saat meletakkan garam mengucap istighfar, memecahkan telur dengan istighfar, mencampur gandum mengucap lagi istighfar. Selalu mengucap istighfar.

Imam Ahmad memperhatikan terus. Lalu imam Ahmad bertanya, “sudah berapa lama Anda lakukan ini?” Orang itu menjawab, “sudah lama sekali Syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”

Imam Ahmad bertanya, “apa hasil dari perbuatanmu ini?”
Orang itu menjawab, “(berkah wasilah istighfar) tiada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah, langsung dikabulkan”.

Nabi muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam (SAW) pernah bersabda: “Siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya”.

Lalu orang itu melanjutkan, “semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan.”
Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya, “Apa itu?”

Penjual roti menjawab, “saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad bin Hanbal”.

Sejurus kemudian Imam Ahmad bin Hanbal bertakbir, “Allahu Akbar, Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh pengurus masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu”.

Penjual roti terperanjat, memuji Allah, ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad bin Hanbal.

والله اعلم

Jangan lupa memperbanyak istighfar

Disadur dari kisah para Auliya, kutipan dari Kajian UAH

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button