oleh

Jambi Masih Berkabut Asap, Riau Sudah Membiru

Batambicara.id (29/9/2019) | Jambi masih diselimuti kabut sementara sudah diguyur hujan. Operasi teknik modifikasi cuaca (TMC) masih dilakukan untuk mendapatkan hujan intensitas tinggi hingga Sabtu (29/9) kemarin. Sementara itu, di Riau konsentrasi kabut segera sudah mulai terurai.

Berdasarkan pantauan satelit LAPAN hingga pukul 21.52 Wib, masih ada 23 titik api dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen. Tim Balai Besar TMC BPPT terus menabur kapur tohor (CaO) untuk menipiskan secepatnya, sehingga awan-awan potensial dapat tumbuh. 1,5 ton CaO dan 2,5 ton NaCl mengangkut pesawat Hercules C-130 dari Lapangan Udara Roesmin Nurjadin Pekanbaru pagi hari.

Jembatan Muara Sabak Jambi (foto diambil beberapa hari silam, saat kabut melanda Kota Jambi)

“Rutenya Tanjung Jabung Barat, Jambi, kemudian menuju juga wilayah Riau. Yakni, Bengkalis, Siak, Pelalawan, dan Indragiri Hulu, ”ujar Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC-BPPT) Tri Handoko Seto. Hasil, tim mendapat laporan hujan hingga sedang mengalami komplikasi. Yakni di wilayah Pelepat Ilir dan Muara Bungo, Jambi.

Mengutip Jawapos, langit kota Pekanbaru, Riau sudah mulai dibuka. Salah satu warga kota Riau, Eka Gusmadi Putra mengungkapkan sejak dua hari terakhir, langit kota Pekanbaru sudah mulai biru dengan membuka awan-awan tinggi. “Cuaca sudah membaik dan kabut sudah mulai memudar,”.

Begitu juga yang disampaikan Ahmad, di wilayah perairan Dumai, “sudah 2 malam ini hujan lumayan deras, sehingga sekarang cuaca di Kota Dumai sudah membaik dan normal kembali”.

BNPB berjibaku memadamkan titik api di Pekanbaru, beberapa pekan silam.

Udara kota Pontianak juga mendukung peningkatan. Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalbar yang juga tinggal di Pontianak Anto P. Wijaya mengungkapkan, jika dalam 2 dan 3 hari terakhir terus turun hujan. “Jarak pandang sudah membaik dan aktivitas perpindahan sudah normal kembali,” jelasnya.

Meski demikian, anjuran pakai masker untuk menghindari ISPA masih diberlakukan di Pontianak dan sekitarnya. Titik api masih ada di beberapa wilayah dan beberapa kota masih diselimuti Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang tidak sehat.

KLHK mengklaim selama satu minggu terakhir, jumlah penurunan panas terus meningkat tren penurunan. “Kondisi titik panas ini sangat jauh menurun, signifikan terjadi penurunan sebesar 90 persen selama satu minggu ini,” kata Kabiro Humas KLHK Djati Wicaksono.

Citra satelit Modis LAPAN yang digunakan BMKG yang menjadi standar kondisi cuaca di ASEAN yang menunjukkan pada 23 September 2019 lalu jumlah titik panas (hotspot) seluruh Indonesia yang menghasilkan 1.374 titik. Dimana di Riau terdapat 134 titik, Jambi 324 titik, Sumatera Selatan 337 titik, Kalimantan Barat 20 titik, Kalimantan Tengah 279 titik, dan Kalimantan Selatan 49 titik, serta Kalimantan Timur 11 titik.

Untuk Sabtu 28 September 2019 tren penurunan kembali terjadi. Kemarin pagi pukul 06.02 WIB, Memiliki 136 titik panas di seluruh Indonesia. Di Riau tersisa 2 titik, Jambi 17 titik, Sumatera Selatan 3 titik, Kalimantan Barat tidak ditemukan titik panas, Kalimantan Tengah terletak 4 titik, Kalimantan Selatan 1 titik, dan Kalimantan Timur mengandung 27 titik.

Menurut Djati, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan oleh BPPT sangat membatu upaya pemadaman di darat, sehingga dapat menurunkan jumlah titik panas. Dalam satu minggu ini, hujan sudah turun di Provins Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat seperti di wilayah Singkawang Bengkayang, Sukadana, dan beberapa wilayah lainnya. Hujan juga turun di wilayah Kalimantan Tengah.

Untuk Provinsi Riau, tim Manggala Agni, TNI, POLRI dan Masyarakat Peduli Api tetap menyiagakan 38 posko khusus di daerah rawan karhutla, dan masih dilakukan pemadaman di Kecamatan Dumai Timur, Dumai Selatan, Medang Lampung, hingga Rengat. Wilayah-wilayah ini membutuhkan lahan yang cukup dalam sehingga perlu dilakukan juga pemadaman darat.

Provinsi Sumatera Selatan yang dalam beberapa hari menghitung hujan. Juga menunjukkan penurunan titik panas. Namun, tim satgas masih melakukan pemadaman melalui darat untuk wilayah yang belum padam, seperti di Desa Muara Medak, Kecamatan Sungai Rotan, dan Kabupaten Muara Enim.

Secara keseluruhan, kata Djati, jarak pandang di wilayah rawan karhutla cukup baik, sehingga penerbangan masih dapat dilakukan di provinsi rawan karhutla ini. Hingga 27 September kemarin, sebanyak 211.216 kg garam telah disemai untuk meningkatkan pertumbuhan awan sehingga turun hujan. **

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed