oleh

Nelayan Galang – Batam Gelar Aksi Protes Di Tengah Laut

Batambicara.id (24/3/2019) | Batam – Kapal Dredging (keruk) Momentum 2000, yang sedang beroperasi di perairan Galang, Batam. Kepulauan Riau, di datangi masyarakat tempatan untuk menghentikan pekerjaan mereka, Kamis (21/3/2019).

Masyarakat Kelurahan Subang Mas, Galang mendatangi kapal penambang pasir ketengah laut.

Puluhan masyarakat Kelurahan Subang Mas Kecamatan Galang, Batam mengadakan demo di tengah laut, mereka protes dan menghentikan pekerjaan pengerukan terhadap sebuah kapal yang sedang beroperasi diperairan tempat mereka mencari rezeki.

Masyarakat melakukan aksi protes penghentian tambang pasir

Abas selaku tokoh masyarakat dan koordinator demo tengah laut mengatakan, “ini (pekerjaan tambang pasir, red) sudah melampaui batas kesepakatan kita dengan pihak negosiator. Kerena kesepakatan saat itu, Rabu (20/03/2019) pukul 15.00 Wib, tersebut, antara pihak negosiator dengan masyarakat untuk tidak ada lagi penambangan pasir laut di perairan kami”

Abas koordinator aksi beserta beberapa masyarakat naik kekapal untuk berbicara kepada nakhoda.

Sebagai pihak negosiator disini adalah Raja Irwan. Saat batambicara.id menghubungi melalui ponsel, tidak dapat terhubung.

Abas menambahkan “nyatanya kami masih melihat pekerjaan mereka dan ini benar-benar sudah merusak ekosistem dan menghambat mata pencarian kami sebagai nelayan. Makanya hari ini, Kamis (21/3/2019) pukul 09.00 Wib, kami mengadakan aksi protes langsung ke tengah laut untuk menghentikan mereka yang sedang menambang pasir lagi”.

Masyarakat Kelurahan Subang Mas, Galang menghentikan kapal penambang pasir

“Adapun hal-hal yang menggerakkan para nelayan Kelurahan Subang Mas, Galang. Batam, menghentikan penambangan pasir di perairan tersebut, adalah sebagai berikut :

  1. Masalah konvensasi;
  2. Kapal penambangan, pada awalnya 1 buah kapal, saat ini melebihi dan tidak sesuai kesepakatan;
  3. Penambangan jauh dari titik koordinat dan lokasi yg sudah di sepakati.
  4. Jenis kapal penambangan pasir yg berbeda-beda.
Puluhan masyarakat lainnya tidak akan beranjak sebelum ada kesepakatan

“Dengan hal tersebut diatas, masyarakat resah dan merasa dirugikan. Tutup Abbas.

***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed