oleh

Cemburu Total Pada Perawat Malaysia, Apa Sih Hebatnya Mereka?

Batambicara.id (18/6/2019) | Tri, seorang Perawat asal Jawa Tengah yang sedang bekerja di Saudi Arabia menyampaikan ; “Pak, mengapa Perawat Malaysia dibayar 5 kali lipat gaji kami? Padahal, keterampilan sama saja. Perawat Indonesia dibayar riyal 2500, perawat Malaysia Riyal 13.000″.

Menurut Tri, yang sedang bekerja pada keluarga kerajaan di Saudi, gajinya sekitar Rp 15 juta, dengan 3 tahun pengalaman kerja. Sedangkan perawat Malaysia digaji sekitar Rp 80 juta.

“Itulah yang membedakan kualitas pendidikan dan pengakuan.” Jawab saya. Malaysia, di bawah jajahan Inggris, bukan hanya pintar berbahasa Inggris, namun pembinaan mental mereka beda.

Itu bukan berarti tidak ada perawat Indonesia yang dibayar besar. Sekitar 50 perawat Indonesia yang bekerja di Qatar, bayarannya antara Rp 50-120 juta per bulan. Teman-teman yang bekerja di Kuwait juga di atas Rp 40 juta.

Hanya saja, secara umum, rata-rata gaji perawat Indonesia memang masih rendah, Rp 4.3 juta, yang dikutip dari Indeed.com. Sedangkan rata-rata perawat Malaysia di negaranya digaji sekitar RM 2800 atau sekitar Rp 9.4 juta, atau lebih dari dua kali lipat gaji perawat kita.

Setengah abad yang lalu, periode 1960-1970, putera-puteri terbaik Malaysia banyak yang dikirim untuk belajar di Indonesia. Selama pemerintahan Dr. Mahatir Mohammad, Malaysia juga banyak mengirim rakyatnya untuk belajar ke luar negeri.

Kemudian mereka balik dan membangun negerinya. Kata Teguh Pribadi, seorang perawat senior jebolan Akper terkenal di Jakarta, di era 90-an hingga akhir 2000, banyak perawat kita yang juga jadi dosen di kampus-kampus keperawatan Malaysia. Jadi, dalam riwayatnya, Malaysia banyak belajar dari Indonesia.

Kini, posisi Malaysia beda. Kondisi kita terbalik. Kita jauh ketinggalan dengan sistem pendidikan keperawatan mereka yang mengikuti British curriculum.

Menurut Asia University Ranking 2017, University of Malaysia berada di urutan 59, Universiti Tunku Abdul Rahman di urutan ke 120, Universiti Putra Malaysia ke 122. Sementara Institut Teknologi Bandung, kampus terbaik di Indonesia, peringkatnya ke 201. Sedikitnya 7 universitas Malaysia yang berada jauh di atas kampus-kampus terbaik kita peringkatnya di level Asia.

Yang membuat pendidikan Malaysia bisa lebih maju dengan pesat, menurut Prof.Wan Mohd Nor Wan Daud, cendikiawan dari Universiti Teknologi Malaysia, kuncinya terletak pada tangan pemimpin. Sebagaimana yang di tulis Wan Daud yang dilansir m.dream, “Pemimpin yang berkuasa, harus peduli pendidikan.” Semangat pendidikan harus kembali pada bangsa dan negara.

Itu bukan berarti negara kita tinggal diam. Pemerintah sudah menganggarkan 20% APBN untuk pendidikan. Program Wajib Belajar Sembilan tahun juga sudah diterapkan. Hanya saja, kata Abdul Munir Mulkhan, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, ada dua masalah besar dalam pendidikan kita. Pertama pembelajaran kita masih mekanik. Anak didik tidak ubahnya seperti robot yang harus sesuai dengan aturan yang ada. Kedua, adanya ketimpangan pendidikan antar daerah di Indonesia, khususnya perguruan tinggi.

Perawat kita, banyak yang dididik hanya berorientasi lokal. Orientasi kerja sebatas pada RS, klinik, balai kesehatan, Puskesmas. Pembelajaran Bahasa Inggris di kampus masih banyak yang tidak beda dengan 30-40 tahun silam. So bad….

Bukan hanya itu, Hamdan (nama inisial) dosen keperawatan di sebuah universitas kondang di Malang, jebolan kampus ternama Australia, mengatakan, apa yang sudah didapatkan dari Australia susah diterapkan di kampusnya. Kendalanya, tidak mendapatkan dukungan dari teman sejawat. Sesama dosen saja, kurang akur dalam penerapan kebijakan demi perbaikan kampus. Hamdan, tidak sendiri. Ratusan dosen keperawatan jebolan luar negeri tidak mampu menjadi Agents of Change di kampus-kampus mereka mengabdi. Mereka tidak mampu membuat perubahan padahal dikirim ke luar negeri untuk berubah.

So, benar seperti yang dikatakan oleh Salah Eldin, rekan kerja saya di Dubai asal Iraq, yang kini sedang di Malaysia, menemani anaknya yang ambil S3 di sebuah kampus ternama di sana. Dia bilang, yang membuat bagusnya system pendidikan bukan hanya system, bahasa, school fee, prospek kerja dan iklim kampus semata. Namun mentalitas individual (pemimpin, pemegang kebijakan kampus, dekan, kaprodi, dosen, satpam, petugas kantin, mahasiswa serta semua penghuni kampus) amat besar peranannya.

So, where are we, Indonesian nurses, heading?

Malang, 15 June 2019
SYAIFOEL HARDY

Diangkat dari tulisan akun facebook SYAIFOEL HARDY dan berbagai sumber

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed