oleh

“PENANTIAN” IJAZAH SELAMA 2 TAHUN

Batam, (25 Feb 2019). Terkait berita di media portal wajahbatam.id dan batambicara.id tertanggal 9 Feb 2019 https://www.wajahbatam.id/batam/wb-09022019/ijazah-anak-hilang-di-smpn-20-tiban-satu-truk-tentara-ibu-bawakan-kemaripun-saya-takkan-gentar/ “SMP NEGERI 20 BATAM”
Perihal ini adalah kesalahan atau keteledoran salah seorang staff TU (Tata Usaha) yang menyimpan arsip data siswa dan sekolah. Sehingga ijazah SMP yang selalu di nantikan oleh siswa berinisial AN dan RS orang tuanya belum juga di berikan oleh pihak sekolah.
Hal ini membuat pihak sekolah ektra sibuk dalam mencari setiap sudut atau rak – rak lemari maupun brangkas arsip sekolah, sehingga mengerahkan hampir seluruh staff dan guru guna mencari selembar ijazah dan SKHU (Surat Keterangan Hasil Ujian) siswa. Sampai pihak sekolah meminta masukan Dinas Pendidikan untuk masalah ijazah yang hilang.

Hal ini di benarkan oleh Kepala sekolah Ibu T. FETTY ARYANI S,Pd. Dalam pencarian setiap tumpukan map maupun lembaran – lembaran arsip yang sudah lama menumpuk di gudang TU.

Pada hari ini senin tanggal 25 Feb 2019 orang tua siswa RS beserta anaknya AN kembali mendatangi ke sekolah karena pihak sekolah selain koperatif dan serius kalau masalah seperti ijazah alumni mereka belum juga di temukan telah menghubungi RS orang tua siswa pada hari Jumat, untuk diminta datang ke SMPN 20 yang berada di wilayah Tiban, Sekupang Batam ini. Oleh karena ada sesuatu hal, RS beserta anaknya baru bisa datang pada hari senin (sekarang, red)
RS dan anaknya AN ketika di minta masuk ke ruangan Wakil Kepala sekolah Ibu Guspawati S,Pd. Alangkah bahagia dan bersyukur mereka ketika di bukanya map merah yang berisikan selembar ijazah dan selembar SKHU di atas meja Wakil Kepala Sekolah. Yang di dalam ruangan tersebut sudah menunggu Kepala sekolah dan seorang staff TU dengan senyuman menyambut RS dan anaknya ketika masuk ruangan itu.

Setelah berdiskusi sekaligus beramah tamah dengan pihak sekolah, sambil menunggu staff memfhotokopikan ijazah tersebut guna di buatkan arsip pertinggal di sekolah. “Ini biasa kami lakukan pak, guna penyimpanan arsip dan laporan kami ke dinas, selain antisipasi jika ada ijazah siswa yang hilang, berdasarkan dari sinilah membuat laporan ke kepolisian, ungkap Wakil Kepala Sekolah yang kental logat Minangnya ini”.
Hal yang senada juga di sampaikan oleh Kepala sekolah bahwa beliau juga di “tegur” dari Dinas Pendidikan Kadisdik Kota Batam Hendri Arulan kalau ada hal seperti ini supaya segera mungkin untuk mencari, kalau benar dinyatakan hilang, segera cepat memberitahukan, jangan di biarkan berlarut – larut, sehingga bisa menimbulkan kepanikan dari pihak sekolah maupun dari keluarga siswa tentunya”. Dan anggap ini sebagai pelajaran dan ajang silaturrahim dari beliau (kepala sekolah, red) yang sudah hampir 3 tahun menjabat sebagai Kepala sekolah semenjak menggantikan Kepala sekolah sebelumnya yang saat ini sudah pindah tugas ke Dinas Pariwisata. Karena selama 3 tahun anak saya mengenyam pendidikan di sini baru ini juga ketemu dengan Ibu Kepala sekolah yang santun yang biasa mengenakan jilbab hitam ini. Ungkap RS yang selalu mengenakan kacamata coklat Ray-Ban ini.
Kami minta maaf atas keterlambatan memberikan ijazah anak Bapak, oleh karena ada sesuatu hal yang ini kadang di luar sepengetahuan kami”, tambah beliau.
Bak kata bersambut juga di utarakan oleh RS menyampaikan kata maaf ketika dirinya datang pada saat bertemu Wakil Kepala sekolah mungkin ada bahasa yang kurang berkenan pada saat – saat ketika mempertanyakan tentang ijazah anaknya kala itu.

Terkait mengenai berita yang sama https://www.wajahbatam.id/batam/wb-09022019/ijazah-anak-hilang-di-smpn-20-tiban-satu-truk-tentara-ibu-bawakan-kemaripun-saya-takkan-gentar/ (tanggal 9 Feb 2019, red) saat Kepala sekolah SMPN 20 (Bapak Dian saat itu) di terangkan oleh Wakil kepala sekolah Ibu Guspa, panggikan akrab beliau, kepada awak batambicara.id setelah membaca berita terkait kami semua membongkar lemari dan arsip dan tidak ada kami temukan ijazah SD (sekolah dasar) yang pernah di tahan oleh pihak sekolah, karena bersadarkan bagaimana pun penahanan ijazah adalah pelanggaran terhadap UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Makanya kami pihak sekolah tidak pernah menahan ijazah apapun, karena bukti legalisir sudah kuat secara hukum administrasi. Imbuh Ibu Guspa Wakil Kepala sekolah SMPN 20 yang sudah lama mengabdi semenjak sekolah itu berdiri. Kalau pun ada penahanan saat itu, oleh karena pindahan rayon Provinsi mungkin secara personal dan bukan melalui mekanisme kedinasan saat itu, juga tidak ada bukti atau nota kesepakatan serah terima berkas antara orang tua siswa dengan Kepala sekolah kala itu. Tutup ibu Guspa, setelah memberikan ijazah kepada AN.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed