oleh

PPI Ikut Memenuhi SUGBK

Batambicara.id (8/4/2019) | Jakarta – Pada perhelatan Akbar Minggu pagi (7/4/2019) di Stadiun Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) bersempena hari kampanye paslon nomor 02 Prabowo-Sandi. Acara dengan jutaan massa yang hadir tersebut bertajuk “Kampanye Akbar” untuk Indonesia Menang.

Baca : SUGBK Menjadi “Lautan Manusia”

Simpatisan, para kader serta partai-partai koalisi paslon 02, dari Jakarta sendiri dan dari berbagai daerah dipulau Jawa, memenuhi Stadiun yang dibangun Presiden pertama Indonesia itu.

Berbagai ormas (organisasi masyarakat) turut andil “menyesakkan” Stadiun yang berukuran lahan 26 hektare tersebut, pada Minggu pagi kemaren.

Salah satu ormas yang memadati SUGBK adalah PPI (Pergerakan Pelaut Indonesia). PPI ikut hadir dalam Kampanye Akbar Capres Prabowo-Sandi, bersama dengan ormas lainnya.

Baca : Prabowo-Sandi Sepakati PPI

Organisasi buruh laut dan pelaut ini sangat mendukung paslon 02, karena visi-misi Capres Prabowo-Sandi, sangat jelas dan memihak kepada buruh yang memiliki kompetensi atas pekerjaan, juga yang berisiko dilapangan, seperti buruh dipelabuhan, pelaut yang berlayar dan buruh-buruh lainnya.

PPI saat perhelatan kampanye Akbar di SUGBK, (dok/ppi/fb).

Selain itu PPI juga mengusulkan kepada Capres/cawapres, Prabowo-Sandi beberapa point penting, salah satunya adalah, Menciptakan lapangan pekerjaan dengan mencabut Perpres No. 20 Tahun 2018 tentang Tenaga Kerja Asing (TKA), yang sudah diterima dan ditandatangani bersama PPI dan paslon 02, ini.

Ketua Advokasi, Hukum dan HAM/ADKUMHAM, Imam Syafi’i, saat batambicara.id menghubungi via messenger (pesan) menerangkan “kita akan ikut memihak dan memilih kepada paslon yang memperjuangkan nasib buruh, terutama buruh yang bekerja dilaut atau yang ditengah laut. Membela buruh dan memberikan kesempatan atau membuka lahan pekerjaan untuk putra-putri Indonesia sendiri, dan bukan memberikan pekerjaan itu kepada orang asing”.

Dilansir dari PPI “Poros Maritim”, selain tidak layaknya upah, pelaut juga rentan dengan pemutusan hubungan kerja secara sepihak, tidak diikutsertakan sebagai peserta program jaminan sosial (BPJS Ketenagakerjaan), tidak mendapat tunjangan hari raya (THR) keagamaan ketika hari raya, tidak mendapatkan hak uang pesangon (UP), uang penghargaan masa kerja (UPMK) dan uang penggantian hak (UPH) ketika berakhirnya hubungan kerja, hingga tidak mendapatkan asuransi ketika mengalami kecelakaan kerja di atas kapal dan/atau ahli waris tidak mendapatkan hak asuransi dan santuan kematian yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Saat ini kita tetap berjuang. Yang didukung menang, Alhamdulillah, perjuangan kita naik satu level ke tingkat yang lebih dekat dan dipastikan akan lebih mudah untuk memperbaiki kondisi. Jika yang didukung kalah, kita tetap terus berjuang, karena seyogyanya hidup adalah sebuah perjuangan,” tutup Syafi’i memberikan keterangan via akun medsos miliknya. **

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed