oleh

Coretan Kenangan Ayah Hardi untuk Ayah Syahrul

Batambicara.id (28/4/2020) | Tanjungpinang – ‘Innalillahi wainna ilaihi rojiin’ selamat jalan Walikota Guru kami. Ungkapan belasungkawa yang mendalam ditanah ‘Gurindam duabelas’ membasahi kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa 28/4/2020.

Tidak hanya masyarakat Tanjungpinang, bahkan masyarakat Provinsi Kepri kehilangan seorang pemimpin berfigur seorang ayah bagi masyarakat kepulauan melayu khususnya.

Banyak kenangan yang tidak bisa diukir mendengar Walikota Tanjungpinang, H. Syahrul, S.Pd meninggal dunia.

Tiba-tiba di semua grup WA saya berita itu muncul bertubi-tubi. Ya, Walikota Tanjungpinang, yang didera Covid-19, berkisar lebih 15 hari yang lalu. Walaupun almarhum meninggal dalam jabatan Walikota, tapi buat saya Alm Syahrul adalah seorang guru. Guru yg baik. Guru sejati.

Profil guru lengkap ada dalam dirinya. Tenang, kebapakan, melindungi, mengayomi, memotivasi, dan tentu saja sabar yang melekat pada dirinya.

Saya dekat dengan Alm Syahrul tahun 1982. Kami sama-sama pelajar SLTA. Kami bersama aktif sebagai Remaja Mesjid Raya Al Hikmah Tanjungpinang. Kami menyebut organisasi kami itu adalah Islamic Youth Centre (IYC).

Almarhum Syahrul menjadi komandannya. Yang hebatnya lagi Pembina kami namanya Syahrul juga tapi Syahrul ini sudah Sarjana dan sekarang kabarnya menjadi Pensyarah di Malaysia.

Alm Syahrul mewakili sekolahnya SPG Tanjungpinang, saya mewakli pelajar SMA Negeri 1 Tanjungpinang. Kami sering bergantian menjadi penceramah Agama, bila ustadz yang ditugaskan berhalangan hadir. Namun tentu saja Alm Syahrul lebih banyak mengisi sebagai pengganti penceramah dibandingkan saya.

Suaranya yang lembut dan tenang modal besar untuk ia menguasai massa sesama pelajar SLTA se Tanjungpinang yang diwajibkan oleh Guru Agamanya hadir setiap hari Ahad di masjid raya kala itu.

Ditengah riuh rendah ratusan pelajar di masjid itu, ia mampu menjadi leader dan semua jamaah muda itupun turut akan komandonya.

Bila hari Senin pagi di kelas sekolah saya, banyak buku catatan ceramah saat di masjid itu diletakkan di meja kelas saya. Teman-teman minta tandatangan saya sebagai pengurus IYC yang akan dikumpulkan ke guru Agama.

Saya menceritakan ke Syahrul Muda. Diapun tertawa di SPG tidak ada macam gitu, kami patuh-patuh semua ke masjid katanya.

Di tahun 1982 itu ada peristiwa Pemilu di zaman Orba. Waktu itu kegiatan keagamaan tidak nampak banyak yang dapat mengumpulkan massa yg besar. IYC salah satu yang berhasil dan menarik perhatian kawula muda Islam.

Pemerintah Orba tentu tidak mau kecolongan bilamana kami sebagai pemilih pemula diambil oleh Partai Politik tertentu. Saya dan Alm Syahrul akhirnya terlibat dalam suasana politik yang tidak mengenakkan. Tapi mungkin itulah pembelajaran politik yang pertama yang kami dapat.

Lagi-lagi alm Syahrul Muda dapat bersikap tenang dan berhasil meyakinkan aparat bahwa kami tidak berafialiasi ke parpol manapun. Pembina kami Drs. Syahrul terpaksa meninggalkan kami dan berpindah ke Malaysia karena tercatat sebagai pengurus partai.

Tahun 1983, kami menamatkan sekolah SLTA. Tentu saja Alm langsung menjadi guru SD dan saya melanjutkan kuliah ke Bandung. Lama kami tak dapat bersilaturahim, karena jauh jarak yg membuat komunikasi tidak secepat seperti sekarang ini.

Tahun 1990, saya kembali ke Tanjungpinang. Bertemunya lagi dan menyampaikan bahwa saya adalah sarjana pendidikan. Alm Syahrul tersenyum, sama-sama cikgu kita rupanya, gumamnya.

Setelah itu saya berpindah ke Batam.
Jarang kami bertemu lagi. Paling bila saya ke Tanjungpinang, itupun sebagai pertemuan yang tidak disengaja.

Tahun 2008 saya adalah Ketua Dewan Pendidikam Kota Batam dan mencalonkam sebagai anggota DPD RI. Alm Syahrul sudah menjadi Ketua PGRI Tanjungpinang. Saya sengaja ketemu almarhum untuk meminta support atas pencalonan saya itu.

Beliau tersenyum, itu perkara kecil katanya. Kita kerja diam-diam sajalah. Saya hanya bisa mengaminkannya. Tapi ternyata suara di Tanjungpinang saya bagus. Saya kira tentu tidak hanya karena usaha Alm. Tapi saya yakin beliau banyak bekerja untuk saya.

Dalam pertemuan selanjutnya saya menghadiahkannya sebuah laptop untuk PGRI Tanjungpinang, kata saya. Beliau ‘marah’ tapi tak dapat menolaknya.

Hari-hari di senayan, membuat sayapun tidak dapat banyak bersilaturahim dengan alm. Setelah beliau menjadi wakil walikota Tanjungpinang barulah ada titik temu kami kembali.

Saya melakukan reses di Tanjungpinang, maka alm yang menerima kami. Profilnya jadi wawako biasa saja. Tak ada yg berubah, lembut senyumnya, perlahan suaranya, santun lakunya, sama saja sewaktu Syahrul Muda, atau Syahrul Guru. Cerita tentang pendidikan dan agama selalu jadi bahan utamanya. Cerita politik malah tak ada.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed