oleh

Everlasting Educators

Batambicara.ID | Kadang rutinaitas kita sebagai pengajar membuat kita melaksanakan sesuatu itu mengalir begitu saja, monoton bahkan ada fase (mungkin) dimana kita lupa hakekat kita sebagai pendidik yang tak cukup hanya bisa mengajar.

Saya teringat apa yang pernah disampaikan guru saya (Ustadzah Triyana) tentang pendidikan dalam suatu pertemuan tak resmi. Beliau adalah guru Fiqih dan Akhlak di SAI Bless. Rasanya penting untuk saya tuliskan di sini, setidaknya untuk pengingat diri sendiri. Semoga bermanfaat juga untuk pembaca. Seperti apakah harusnya kita sebagai pendidik itu?

Ini beberapa catatan yang baik untuk kita simak.

Sebagai pendidik, kita ini mengemban amanah. Sebagai pemegang amanah, kita harus bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya. Karena ketika kita tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya, itu bisa memasukkan kita pada keriteria dzolim.

Bayangkan kalau kita salah meletakkan sesuatu..!!
Salah meletakkan bahan bangunan saja bisa menghancurkan suatu bangunan. Apa yang harusnya diletakkan sebagai dinding malah kita letakkan sebagai atap, bisa hancur kan ?

Apalagi dalam hal mendidik, yang kita bangun adalah suatu generasi.

Pendidik itu tugasnya membangun.
Yang namanya membangun, tidak cuma keluar energi, uang dan sebagainya. Tidak juga cuma bisa mengatur. ”Oh ini diletakkan di sini. Ini mestinya pakai bahan ini”.
Tidak cuma seperti itu. Ada amanah, itu yang membuat kita tak luput dari ‘controlling’. Controlling itu suatu keharusan.

Mendidik itu sedikit demi sedikit
Kita memang punya target besar dalam mendidik. Tapi tidak juga bisa langsung yang besar itu kita tumpahkan sekaligus kepada anak didik kita. Harus ada tahapan, harus setapak demi setapak dan harus terus dikontrol.

Dan ternyata cara Allah juga begitu. Misalnya tentang puasa Ramadhan. Ketika syariat puasa diturunkan itu, ternyata sedikit demi sedikit. Tidak langsung seperti sekarang ini. Ini bisa dibaca di sejarah disyariatkannya puasa. Ada prosesnya.

Mendidik itu sampai batas sempurna Ini tentu luar biasa beratnya.
Ternyata batas mendidik itu sampai kita pastikan orang yang kita didik, murid-murid kita ini, benar-benar memegang teguh agama Allah SWT. Ini target besar kita.

Bahkan ada yang mendefinisikan, yang namanya pendidikan itu, sampai benar-benar yang kita didik itu mampu mewujudkan pemahamannya pada Allah dalam semua aspek kehidupan.

Berarti, tugas mendidik itu nggak ada ending-nya. Maka, untuk kita sebagai pendidik ataupun sebagai orang tua, meski anak kita sudah besar, tugas ‘mendidik’ kita tidak selesai. Kita belum boleh diam. Pendidikan itu tetap ada, hanya mungkin porsi dan caranya berbeda.

Ini kaitannya dengan QS AN Nisa : 9. Intinya, hendaklah orang-orang merasa khawatir atau takut.

Ini berlaku untuk guru maupun orang tua.
Artinya, Allah sudah memberi warning, jangan pernah kita merasa aman-aman saja kalau jadi seorang pendidik. Nggak bisa begitu !

Karena pendidikan itu sudah pasti targetannya. Kalau bisa kita pastikan yang dididik benar-benar bisa menjadi hamba yang baik dalam seluruh kehidupannya.

Nah, kebayang kan beratnya seperti apa ! lamanya seperti apa ! pendidikan itu, seumur hidup.

Kalau kita baca Al Baqoroh, kisah tentang Nabi Ya’kub, Allah berikan perumpamaan. Sangkin nggak boleh merasa aman, Allah memberitahu kita lewat kisah Nabi Ya’kub.

“Kalian menyaksikan nggak ketika Ya’kub didatangi kematian?” Masih sempat lho dia itu ternyata menanyakan ke anak-anaknya,”Wahai anak-anakku, apa yang akan kamu sembah setelah aku meninggal?”
Artinya Nabi Ya’kub pun belum merasa aman sampai segitunya.

Maka bisa dibayangkan ketika sudah menyiapkan diri untuk jadi seorang pendidik, kemudian tugas kita memang mendidik anak-anak kita, maka itulah amanah yang sudah kita pikul.

Pendidik itu adalah everlasting educators

Catatan Diana
Awal September 2019
Di Sekolah Ar Rasyid 1
Cibalung Kab. Bogor

Gambar : ilustrasi (Swamedium)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed