oleh

Mengapa Harus Palestina..?

Batambicara.ID | Teringat salah satu kegiatan bermanfaat yang diadakan di saat Ramadhan yang lalu, yaitu acara Al Yaum Maal Qur’an (sehari bersama Al Qur’an).

Kenapa sih ada Yaumah Al Qur’an? Yaumah Al Qur’an itu kan sehari bersama Al Qur’an. Sebetulnya setiap saat harusnya kita bersama Al Qur’an. Kenapa ini diadakan?

Fakta di bulan Ramadhan apalagi semakin mendekati ujung bulan Ramadhan, makin dekat ke lebaran, shaf semakin maju. Yang ramai biasanya adalah pusat-pusat perbelanjaan.

Kita sibuk menyiapkan fisik, sibuk menyiapkan makanan lebaran, padahal kalau sekarang untuk hal seperti itu kita bisa nggak sibuk. Tinggal mainkan jari di HP aja yang penting ada duit.

Jangan sampai kita justru disibukkan oleh hal-hal yang sebenarnya nggak substansial. Selama mengikuti Yaumah Al Qur’an, karena sehari bersama Al Qur’an, jadi hari itu hanya untuk Qur’an saja. Harus dalam kondisi berwudhu, dan semua pembahasan tentang Al Qur’an.

Saat itu juga ada tamu dari Gaza menyampaikan secara ringkas, kenapa sih Palestina, kenapa sih harus Al Aqsho?

Palestina ini adalah suatu wilayah yang notabene merupakan sebuah tempat di muka bumi ini, sebagai negara Islam. Banyak negara Islam, mungkin termasuk Indonesia, tapi negara yang disebutkan wilayahnya dengan jelas di Al Qur’an, bahkan dibagian tengahnya Al Qur’an (katakanlah di jantungnya Al Qur’an) adalah Al Aqsho-Palestina. Dimana?

Subhānallażī asrā bi’abdihī lailam minal masjidil harāmi ilal masjidil aqsho…

Jadi di Masjidil Haram dan Masjidil Aqsho dan wilayah di sekitarnya itu adalah tempat dimana keberkahan dilimpahkan di sana.

Di dalam Hadits Qudsi Rasulullah SAW menyebutkan,”Kalau nanti kamu mau bertemu dengan orang-orang yang memperjuangkan Islam sampai akhir zaman, datanglah ke daerah Syam“. Termasuk di dalamnya Palestina. Jadi kalau mau berjihad, ya di situ. Itu janji Rasulullah, bahwa sesungguhnya orang yang benar-benar memperjuangkan Islam itu akan selalu kita temui di wilayah itu.

Terus apa urusannya kita dengan Palestina? Itu kan urusan luar negri. Nggak begitu!! Kenapa?
Karena pertama, Al Aqsho adalah wilayah yang disebut di dalam Al Qur’an, Al Aqsho adalah bagian dari keimanan kita, Al Aqsho adalah kiblat pertama sebelum Masjidil Haram.

Jadi artinya, ada alasan kenapa اَللّهُ menetapkan arah sholat itu menghadap ke Aqsho, sebagai kiblat pertama. Karena memang di sana tempat para nabi.

Orang Yahudi itu memang akhirnya menentang para Nabi. Mereka membunuh para Nabi, bukan hanya 1, beberapa Nabi. Di samping itu mereka juga merupakan sebuah kaum yang dimuliakan اَللّهُ dengan dihadirkan keturunan nabi yang banyak di situ.

Yang kedua, kenapa kita harus berurusan dengan Al Aqsho? Karena masjidil Aqsho itu adalah wakaf ummat Islam. Jadi dia milik ummat islam, bukan hanya milik orang Palestina.

Artinya kita punya kewajiban untuk mempertahankan itu. Al Aqsho adalah warisan ummat Islam.

Kemudian kenapa ada kemuliaan di sana? Karena dari seluruh langit dunia, langit yang pernah dilobangi, langit yang ditembus sampai ke sidrotul muntaha hanya langit yang ada di atas Al Aqsho. Jadi semua langit ini belum pernah punya jalur langsung ke surga.

Ketika isra’ mi’raj itu Rosululloh dari Masjidil Haram sampai Masjidil Aqsho, itu merupakan perjalanan buminya. Lalu dari Masjidil Aqsho ini Rosululloh diangkat, apakah secara fisik atau ruhnya saja, tapi di langit itu pernah terbuka menuju surga, sidrotul muntaha, langit ke 7. Dan di perjalanan itu kepada Rosululloh diperlihatkan surga dan neraka.

Dari peristiwa ini saja, kita bisa menemukan jawaban kenapa bukan kita yang jadi Rosul? Boleh jadi kalau kita yang jadi Rosul disuruh isra’ mi’raj, kita nggak mau balik lagi. Nggak usah jauh-jauh, dari peristiwa ini saja. Makanya kita nggak jadi Rosul. Sementara Rosul itu, ketika disampaikan surga dan neraka, beliau punya peran besar menginginkan ummatnya untuk bisa masuk ke dalam surga. Dan jangan sampai masuk ke dalam neraka.

Saat Yaumah Al Qur’an itu ditanya,”Sudah siap nggak kita menjadi sholeh dan mensholehkan orang lain? Sudah siap nggak kita menyiapkan generasi penerus? Anak-anak kita bagaimana sekarang?”

Sekarang ini sudah timbul anak-anak yang lahir dari orientalisme. Orientalisme itu, ilmu yang mempelajari Timur wa bilkhusus Islam, tapi bukan untuk mengimani, melainkan untuk dijadikan alat menghancurkan Islam. Timbul organisasi-organisasi yang kontra Al Qur’an. Tapi dia menggunakan perlawanan terhadap Qur’an dengan mengguakan Qur’an yang dikoreksi.

Lalu, kita ada di barisan yang mana? Kemudian siapa yang meneruskan perjuangan kita? Contohnya, ada organisasi milenial, mereka membangun organisasi itu melalui kampus-kampus. Bagaimana kita membangun di keluarga kita? Di kampus? Kita mungkin tidak lagi aktif di kampus.

Kita bisa melihat di keluarga kita niy. Kapan kita mulai menanamkan bahwa mereka (anak-anak kita) harus menjadi pejuang-pejuang Islam?

Di saat Yaumah Al Qur’an itu ada yang bertanya pada Syeh dari Palestina. “Sekarang negara anda kan sedang terjajah secara fisik. Di satu sisi negara anda dihancurkan, dibomb dan sebagainya. Negara kami sedang dijajah oleh yang menghutangi. Kita nggak terjajah secara fisik tapi kita udah nggak punya apa-apa sebenarnya.”

Dihari pertama Ramadhan, di Palestina, satu apartemen 6 lantai dibomb hancur. Seluruh penghuni yang ada di situ cuma bawa baju yang ada di badan. Itu awal Ramadhan. Jadi ketika orang lain di seluruh dunia menyambut Ramadhan dengan damai, mereka menyambut dengan kehancuran, 30 ribu orang terluka, 15 ribunya amputasi. Medis di sana sudah nggak sanggup. Jadi perawatan medis itu dikirimnya ke Mesir dan ke Turki.

“Kita yang tidak terjajah secara fisik, tapi terjajah karena kita sudah dijerat hutang. Negara kita sudah terjerat dan terjajah. Terus gimana ya Syeikh apakah ini bagian dari skenario internasional?”

Lalu beliau menjawab begini, (ini juga jawaban buat kita. semua),”Jadi ummat Islam itu seperti janji hadits Rosululloh, dalam hadits qudsi Rosululloh sampaikan bahwa, ummat Islam ini akan ada pada sebuah timeline sejarah. Masa terbaik adalah pada masa ada Rosululloh, lalu sesudahnya, khulafaurrasyidin, setelah khulafaurrasyidin diteruskan oleh kendali kekuasaan yang dipegang oleh “penguasa yang menggigit”, tetapi ummat Islam masih memiliki payung dan pusat komando (al-imamah al-‘uzhma) di Turki. Lalu masuk ke fase diktator (Mulkan Jabbriyyan) – (kita skrg berada di fase ini), pemimpin-pemimpin yang mencekik, lalu diperintah lagi oleh pemimpin-pemimpin yang buruk juga sampai akhirnya datang lagi masa turunnya Imam Mahdi, masa turunnya Nabi Isa, kembali lagi kesejahteraan, kembali lagi kebangkitan, lalu setelah itu kiamat.

Nah seberapa kita sudah siapkan penerus kita? Penerus kita mungkin ada pada masa pemimpin yang mencekik. Pada masa ini ummat Islam ada pada fase dho’fun. Masa dho’fun itu adalah masa terpuruk.

Saat ini kita msih bisa hidup, masih bisa beli rumah, masih bisa pakai mobil, tapi hakekatnya kita tersandera. Bisa sewaktu-waktu kondisi kita kaya’ di Palestina. Setelah fase dho’fun maka ada fase berikut yaitu fase za’ama fase dimana kita bisa turut dalam sebuah kekuasaan dan kita bisa mewarnai kekuasaan itu. Kondisinya mirip seperti sekarang ini mungkin.

Ada kesempatan untuk mengeluarkan hukum dan undang-undang karena ada peningkatan perolehan kursi di dewan. Kalau sebelumnya kan kita lebih sedikit jadi proporsinya nggak bisa mempengaruhi. Sekarang lebih besar. Tapi setelah ini akan ada sebuah masa dan ini adalah masa yang berat namanya masa Syiro’. Masa Syiro’ adalah ketika terjadi pengguguran habis-habisan seluruh elemen Islam. Sekarang pun mungkin sudah mulai dirasakan ya.

Artinya, anak kita saat ini, generasi muda saat ini harus dipastikan dia lebih baik dari kita. Kita harus mulai berpikir bagaimana kita menghadirkan generasi muda yang cintanya pada Islam dan dakwah lebih besar dibanding kita. Kenapa?

Karena mereka pasti mengalami ujian yang lebih berat dari kita. Kebayang kan! kalau sama saja dengan kita, mereka bisa terpuruk. Karena ujian mereka dipastikan lebih berat dari ujian kita.

Jadi ini masih dalam fase naik terus ujiannya. Sebelum masa hadirnya Imam Mahdi, Nabi Isa turun, saat itu barulah fase damai. Kita kan masih dalam kondisi fase dho’fun, jadi tingkat kesulitannya akan terus bertambah.

Sebagai orang tua, sebagai pendidik, kita harus pastikan generasi berikutnya harus punya kekuatan keimanan dan perjuangan yang lebih besar dari kita.

Dengan kondisi sekarang ini, kenapa kita perlu ada Yaumal Qur’an itu, lalu kita dihadapkan dengan saudara kita di Palestin.

Kalau ketika bertemu saudara kita dari Palestin, kita bilang kita kekurangan, malu! Karena mereka itu mau menanam apa? Mereka mau makan apa. Embargo ditutup sampai Syeh itu bilang,”Saya tidak akan kembali ke Palestina sebelum saya mendapatkan cukup dana untuk di sana bisa nanam atau di sana bisa berobat karena memang udah nggak ada lagi.”

Di sana itu lokasi mereka lebarnya cuma 5–7 km panjangnya sekitar 400 atau 700 km dan itu ditembok tinggi. Bagai penjara terbesar di dunia. Dan mereka nggak bisa kemana-mana.

Kalau kita punya dana, mudah-mudahan kita bisa ke sana, di sana kita tinggal di rumah saudara-saudara kita dekat mesjid Al Aqsho. Di sana ada 400 ribu perempuan (kebanyakan perempuan, karena kalau laki-laki, udah pasti masuk penjara itu pasti dibuat mandul karena memang akan dihabisi).

Di sana melahirkan itu adalah mempertahankan Al Aqsho. Karena mereka nggak bisa minta kita ke sana. Syeh itu bilang,”Kami tidak akan pernah meninggalkan Al Aqsho karena kami punya tanggung jawab menjaga Al Aqsho.

Kita juga punya kewajiban di sana.
Maka zakat, infaq, wakaf, sedekah dan segala macam yang kita kumpulkan, itu adalah bagian dari kita ikut berkontribusi.

Nah, mulai sekarang kita nggak boleh selfies dalam berdoa, hanya doa untuk diri kita aja. Ya اَللّهُ rahmatilah keluargaku..ku..ku..ku semua balakangnya ku. Bukan kami, bukan doa untuk orang lain juga.

Berdoalah untuk seluruh ummat Islam, selain diri kita, keluarga kita, juga untuk seluruh ummat muslim di dunia. Dan kemudian kita bisa berpartisipasi ya pada kondisi saudara-saudara kita itu.

Kalau kita punya dana banyak, semoga bisa membantu mereka, saudara kita di Palestina. Malu kalau kita bilang kita nggak punya. Sementara mereka bukan saja nggak punya, mau pulang ke rumah juga ke rumah siapa? Kalau ibu bapaknya nggak ada, anak-anak kecil itu siapa yang ngurusin. Kan mereka sama-sama susah. Sama-sama di bom.

Kita di sini, sesusah-susahnya, sayur kita masih ada, air masih ada. Masih banyak lah kemudahan dibanding mereka.

Mengeluarkan harta itu adalah bentuk pembuktian keimanan. Bahwa dengan memberikan harta itu adalah kita tidak cinta pada diri kita.

Kalaupun tak mampu harta, setidaknya doa. Kalau doa kan gratis ya. Paling kita capek doank. Sementara berinfak, shodaqoh itu ngerogoh kantong, berat apa nggak? Ngerogohnya gampang, ngeluarinnya berat, yang dikeluarin 1000, 2000 atau 10000? Kalau uang besar, masukin lagi !
Kita harus memotivasi diri kita ya, untuk berbuat baik dengan harta dan jiwa kita. Karena اَللّهُ menjanjikan balasannya.

Memberi itu bagian dari keimanan. Bukan masalah duit kita kurang maka kita sulit memberi. Bukan! Bukan sama sekali. Itu adalah masalah keimanan.

#SavePalistina

#ayonontonHayya

Wallahu’alam bissawab
Catatan Diana
220919

Gambar : bantuan logistik beras dari Indonesia untuk Palestina

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed