oleh

Allah Tampakkan Pahala Sedekah Setelah Wafat

KISAH INSPIRATIF GURU UAS HAFIZHAHULLAH

Bercerita Ustadz Abdul Somad (UAS) Saat Setelah Ditinggal Ibunda Tercinta.

Batambicara.id (29/3/2019) | Tanjung Balai Asahan – Hampir Sepekan setelah UAS ditinggal ibunda tercinta, barulah UAS bisa memberikan taushiah atau ceramah, saat malam ke-3 dikediaman Almarhumah ibunda tercinta UAS di daerah bernama Silau Laut Kabupaten Asahan Provinsi Sumatra Utara. Silau Laut – Kota Medan (168.8 km)

UAS bercerita dan mengenang ibunda tercinta, saat-saat kebersamaan dan memberikan motivasi kehidupan bagi UAS dan bagi masyarakat dilingkungan daerah Silau tersebut.

Ketika malam ke-3 ta’ziah, gurunda Ust. Ustadz Abdul Somad عبد الصمد Hafizhahullah bercerita mengenang maknya, “Mak ku tu, gemar bersedekah. Setiap melihat orang susah, pasti cerita ke kami untuk membantu orang tersebut. Tapi dia tak pernah minta ke Aku. Hanya cerita saja, kalau duitnya tak cukup untuk membantu. Aku paham, ujung-ujungnya pasti tambahan untuk sedekah itu.”

Ketika sampai di bandara Medan waktu wafat ibunda tercinta, beliau dijemput oleh Pak Gubernur. Ungkapnya, “Pas saya keluar Bandara, langsung dikasih pak Edi duit, tebal (sembari merenggangkan jempol dan telunjuknya). Teringat saya, rupanya duit mak dulu yg dimasukkannya ke amplop yang tipis tu. Setiap kotak tu, duit, duit, duit. Itulah yg dia bagi. Itu duit dia sendiri, entah dia tahan selera makan dia, atau duit sawitnya yg dibagi-bagi. Dia tak pernah minta duit. Hari ini, Allah perlihatkan balasannya, Masya Allah”

“Kalau kenduri (mengundang orang tuk makan-makan) di Silau Laut, mak saya selalu masak rendang sendiri di Pekanbaru. Tak pernah pesan di katering. “Kenapa mak buat rendang jauh-jauh di Pekanbaru, tidak di Asahan saja?” Tanya ku. Jawab mak saya, “Aku tak tau yg memasak ghondang (rendang) tu, bebasuh konciangnyo apo tidak (maksudnya, dalam keadaan berwudhu atau tidak).” Ternyata mak saya tu kalau memasak, selalu mencuci beras, ikan dan daging, di akhirnya selalu disirami dengan air Shalawat. Baju pun dicucinya juga dengan air Shalawat. Patutlah berkah hidup ini. Makanya, yg bertuah itu bukan saya, tapi mak”, (terlihat mata beliau berkaca-kaca menahan tangis).

Lanjut beliau, “Mak saya sangat perhatian dalam pendidikan anaknya. Waktu kecil, mak selalu menghantarkanku ke guru-guru ngaji dengan rotan yg sudah dibelah empat. “Ini aku serahkan anakku, Abdul Somad, ini rotan. Tolong ajari anakku. Kalau jahat Somad ni nanti, pukullah Cu (panggilan untuk yg lebih kecil, melayu). Pukullah Cu.” Ujar mak saya. Begitulah mak saya, selalu menyerahkan aku ke guru-guru untuk belajar mengaji sejak kecil, dan tak pernah lupa mengontrol pendidikan anaknya”.

Setelah itu, beliau mengungkap tentang ibadah maknya. “Mak saya tu, kuat ibadahnya. Saya tak sanggup. Ba’da Maghrib ke isya, dia duduk di sajadah. Jam 9 dia tidur. Jam 2 bangun untuk shalat tahajjud & dzikir. Buku wiridnya toba (tebal). Sudah tu, dia mandi sebelum Shubuh. Setiap Senin dan Kamis puasa. Makanya pas dia wafat, dalam keadaan puasa sesudah sahur.”

Suatu hari, Ust. Abdul Somad pernah menguping percakapan antara maknya dan sahabatnya, uwak iti. “Apo kau do’akan anak kau?” tanya uwak Iti. “Dulu… waktu dia tu di Mesir, di Maroko, setiap malam ku bacakan anakku tu, 100 kali al-Fatihah. Tiap malam.” Jawab mak saya kepada sahabatnya tadi.

“Mak tak pernah cerita itu ke saya. Patutlah saya di Mesir, tak pernah sakit, tak pernah domam (demam), di Maroko pun sehat wal ‘afiyat. Tapi sekarang saya mulai khawatir, karena mak dah tiada. Tidak ada lagi do’a mustajab dari beliau.” Ungkap UAS.

Masya Allah..

Kesholehan seorang ibu, kunci kesuksesan dunia akhirat seorang anak. Do’a ibu adalah keberkahan hidup seorang anak. Patutlah engkau memiliki anak seperti gurunda Ust. Abdul Somad Hafizhahullah. رحمك الله وغفر ذنبك يا أم

UAS tidak bisa melanjutkan ceramahnya, karena beliau sudah terisak menahan tangis semenjak bercerita dari awal. Ustadz kondang yang menolak sebagai Cawapres hasil ijtima’ ulama yang berpasangan dengan Prabowo ini menutup ceramahnya.

Mengenang, UAS bersama Almarhumah ibunda tercinta Hj. Rohanah rahimahallah, saat di Makkah.

Teruntuk para ibu… Teruslah dekatkan dirimu kepada Allah. Ketuklah pintu Rabbmu di setiap penghujung malam dengan shalat dan munajatmu. Agar anakmu menjadi shaleh & hidup anakmu dalam berkah & ridho Rabbmu. Tidakkah engkau ingin seperti Hj. Rohanah rahimahallah, yg mendapatkan do’a kaum Muslimin dari seluruh penjuru negeri?

Teruntuk para anak… Teruslah cari ridho ibu dan ayahmu. Jangan berhenti berbuat kebaikan kepada & untuk mereka. Mintalah selalu do’a mereka. Khususnya do’a ibunda. Agar hidupmu penuh berkah dan ridho Rabbmu. Sehingga kebahagiaan selalu menyertai langkahmu. Tidakkah engkau ingin ibumu mendapatkan kedudukan mulia di sisi Rabbmu?

ربنا اغفر لنا ولوالدينا وارحمهما كما ربيانا صغارا وارفع درجتهما في الدنيا والآخرة… آميـــن

Kampung Syahadah, 17 Rajab 1440 H
(Rasyid Minangkabawi)

Ceramah UAS malam ke-3 dikediaman Almarhumah ibunda tercinta (video : Tafaqquh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed