oleh

Konsekuensi Cinta

“(Lawazimul Mahabbah)”

www.batambicara.id (15/3/2029)

Jangan ngomong cinta kalau nggak mau ambil konsekuensinya.

Salah satu dari Lawazimul Mahabbah adalah, Mahabbatu man ahabbatul mahbub (mencintai apa-apa yang dicintai kekasih).
Mahbub adalah kekasih.

Kecintaan itu menghasilkan kecintaan lagi pada apa-apa yang dicintai kekasih kita. Itu menghasilkan wala’ atau loyalitas.

Konsekuensi cinta itu ada QS At Takwir : 29
“Dan kamu tidak dapat menghendaki atau menumpuh jalan itu kecuali apabila dikehendaki اَللّهُ swt.”

Jadi, cinta ini sebenarnya kaitannya dengan اَللّهُ. Kita nggak bisa menghendaki atau menempuh jalan apapun, ikhtiar apapun kecuali apa yang اَللّهُ kehendaki. Jangan sampai kita lepas dari pemahaman itu.

Dok : Risalah Tarwabiyah

Konsekuensi dari mencintai sesuatu adalah menyesuaikan diri dengan yang kita cintai. Misalnya suami kita nggak suka kita make up, terus kita make up, dia kaget. Kog ada yang cantiknya tuing tuing tuing…dia kirain istri orang salah masuk.

Kita dapat hidayah, kita jadi baik itu nggak boleh ke-GR-an. “Gua sekarang jadi baik nih, soalnya gua rajin ngaji.”
Nggak begitu! Sebetulnya karena اَللّهُ menghendaki kita baik maka اَللّهُ ciptakan lingkungan kita baik, terus kita punya teman-teman yang baik. اَللّهُ mudahkan, karena اَللّهُ menghendaki kita jadi baik.

Jadi kalau اَللّهُ udah kasi kita jalan baik, kita jadi orang baik, punya lingkungan baik, kita jaga karena itu namanya hidayah dari اَللّهُ dan itu, bisa dicabut kapan aja اَللّهُ mau. Jadi jangan pernah ke-GR-an merasa kita baik karena diri kita sendiri.

Kita kan suka gitu ya. Ini kita abis ngasi sedekah niy…”Ihh gua baik banget ya.”
Padahal kita bisa melakukan kebaikan itu sesungguhnya karena اَللّهُ ijinkan itu terjadi. Sekarang kita bisa qiyamul lail, bisa istighfar, bisa dhuha, itu bukan karena kita disiplin. Bukan! Semata-mata itu karena اَللّهُ menghendaki kita makanya kita mendapat kemudahan itu. Mudah berbuat baik.

Lakukanlah apa-apa yang disukai Kekasih kita (dalam hal ini اَللّهُ).

Kalau kita mencintai Kekasih tentu kita berusaha mencintai siapa saja yang dicintaiNya.

Siapa yang dicintai oleh اَللّهُ? Nah ini jadi patokan kita ya. Kalau اَللّهُ suka sama orang-orang ini maka kita juga harus mencintai mereka.

  1. Muhsinin (QS 2:195, QS 5 :13)
    Innallaha yuhibbul muhsinin. اَللّهُ mencintai orang-orang yang berbuat baik, berarti, kita juga harus mencintai orang-orang yang berbuat baik. Kan ada ya orang yang kontradiktif. Dia suka berbuat baik tapi juga dia punya sifat yang lain. Suka berbuat baik tapi cerewet gitu. Nah, kalau اَللّهُ sudah mencintai orang-orang yang berbuat baik maka kita harus mencintai orang-orang yang berbuat baik apapun itu, sedekah, suka senyum, ramah sama tetangga, itu kan perbuatan baik. Suka ngasi-ngasi…kadang ada timbul perasaan misalnya, “Aah dia mah ngasi cuma pisang goreng…” Nah, bagus ngasi pisang goreng dari pada kagak ngasi apa-apa?
  2. Innallaha yuhibbut tawwabin (QS 2 : 222)
  3. Innallaha yuhibbul mutathohhirin (QS 2:222)
    Langsung nih poin 2 dan 3. اَللّهُ mencintai orang-orang yang suka bertobat.
    Di hadits Qudsi disebutkan,”Kalaulah semua makhluk tidak ada lagi yang minta ampun, اَللّهُ akan ciptain makhluk baru.”
    Dihilangin yang pada nggak mau tobat.

Seseorang yang berbuat dosa kemudian dia minta ampun pada اَللّهُ, اَللّهُ mencintai orang-orang yang bertobat. Kita pasti akan melakukan kesalahan berkali-kali. Pada saat itu, sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah orang yang bertobat.
Kadang kita maksain diri. Yah kita salah nih terus kita nggak berbuat baik lagi. Padahal اَللّهُ selalu membuka pintu tobat.

Dan اَللّهُ juga menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Kita beristighfar dan mensucikan diri itu memang kita bersuci. Kita dalam kondisi berwudhu. Mensucikan diri artinya kita, menghindari dosa. Menghindari gosip, meski orang udah semangat mau ngejelekin orang, kita nggak ikutan bahkan baiknya kita luruskan. Kita bisa matahin orang yang suka gosip gini…ah dia kan gini gini gini. Kita jawab saja,”Terus kenapa?” Kalu kita nge’cut’ itu, kita nggak membuat orang makin semangat ngegosip.

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mensucikan diri. Kita ini berbuat baik aja dosa kita udah banyak, apa lagi kita ikutan ngegosip. Semakin bertambahlah dosa kita. Sama seperti memakan bangkai saudara kita sendiri.

Sebenarnya kalau kita masuk ke ayat-ayat tentang ghibah itu ngeri ya…ghibah itu bukannya cerita bohong. Ghibah itu sesuatu yang benar. Kalu mengatakan suatu kebohongan atau dusta tentang seseorang itu jatuhnya fitnah. Ghibah yang diibaratkan seperti memakan bangkai saudara kita sendiri itu, adalah omongan yang benar. Tapi orang yang diomongin itu nggak akan suka kalau dia tau dia diomongin gitu.

Dicontohkan Rosululloh, Aisyah itu pernah nyinggung fisik. Dalam riwayat disebutkan Hafshah, anaknya Umar bin Khattab yang menjadi istri Rosululloh itu orangnya pendek. Kuntet. Nah Aisyah itu pernah ngatain fisik.
Aisyah kira-kira ngomongnya gini, ”Kok si Hafshah itu kuntet?”
Terus kata Rosululloh,”Apa yang kamu omongin itu kalau dimasukkan kedalam air laut, bisa membuat air laut itu jadi rusak.”
Bayangin air laut kan segitu banyaknya. Terus dalam satu kisah, ketika Aisyah melakukan itu disuruh meludah. Yang keluar darah. Itu bagian dari mukjizat-mukjizat Rosululloh. Jadi apa yang kamu lakukan itu ghibah. Hati-hati, ya jangan-jangan kita banyak banget ini ghibahnya. Makanin daging saudara kita yang sudah meninggal. Karena ghibah itu bukan berita bohong. Kebanyakan tuh yang suka ghibah ya perempuan. Ibu-ibu kan suka ngomentari apa aja. Emang bener yang dia katakan.

Dan itu kita harus belajar. Yang membuat perempuan banyak masuk ke neraka kan yang pertama, kita kufur nikmat, nggak bersyukur atas apa yang diberikan suami ke kita, yang kedua adalah diantara dua bibir dan diantara dua paha.

  1. Dan اَللّهُ mencintai orang-orang yang muttaqin
  2. Juga اَللّهُ mencintai orang-orang yang mutawakkilin

Dan Muttaqin itu orang-orang yang bertakwa. Kalau kita tau اَللّهُ mencintai orang-orang yang bertaqwa maka kita harus dekat-dekat dengan mereka, kita harus mencintai orang-orang yang bertaqwa itu.

Mutawakkilin, orang-orang yang bertawakkal pada اَللّهُ. Nah orang-orang yang bertawakkal pada اَللّهُ ini, kalau udah berazam, kalau udah punya sesuatu kebaikan maka bertawakkallah pada اَللّهُ.

Kalau orang pingin buat rumah yatim piatu (misalnya). Tapi dia nggak punya apa-apa…ya udah kita bisa nggak tawakkal sama اَللّهُ?

Tawakkal itu melakukan 2 hal, ikhtiar manusia dan bergantung pada اَللّهُ. Jadi nggak bisa salah satu. Tawakkal itu ikhtiar manusianya itu maksimal.

Kalau kita lihat sahabat Rosululloh ya misalnya di perang khandaq. Perang khandaq itu perang parit. Parit itu ada dan sekarang jadi jalan raya. 5,5 km parit digali dalam kondisi batu saat itu. Bukan tanah. Lebarnya itu kurang lebih 3,6 m. Jadi kalau got kan cuma 15 cm, ini 3,6 m dalamnya sekitar 3,3 m. Itu sekitar 3 m digali oleh 4 laki-laki. Bahkan proses strategi perang khandak ini dilakukan pada saat Mekah dalam kondisi paceklik.
Dikisahkan sangkin nggak ada yang dimakan, maka para sahabat itu ngambil batu diikat diperut.
Nah, kemudian dalam kisah disebutkan, sahabat mau ngeluh ke Rosul. “Ya Rosul saya belum makan.” Pas dia mau ngeluh dia lihat, ternyata Rosul, batunya sudah dua. Itu artinya Rosululloh lebih lapar.
Demikian ikhtiar pada saat itu mereka dikepung oleh pasukan dari berbagai kabilah-kabilah di Arab yang mau menghancurkan Islam. Dan dalam kondisi paceklik mereka harus gali batu. Kira-kira gimana orang paceklik nggak makan, kekuatannya seberapa? Tapi ketika Salman al Farisi mengusulkan ‘pertahanan kita adalah menggunakan parit’, tapi parit yang tidak bisa dilompati oleh kuda, dan itu dilakukan.

Artinya mereka bertawakkal pada اَللّهُ, tapi tawakkalnya dengan usaha yang maksimal.

Pernah nggak kita tawakkal sampai kaya’ gitu? Dalam kondisi paceklik tetap mengupayakan ikhtiar supaya nggak dihancurkan musuh, dengan menggali batu. Itu luar biasa.

Jadi ketika اَللّهُ sebutkan innallaha yuhibbul mutawakkilin, اَللّهُ mencintai orang-orang yang bertawakkal pada اَللّهُ, tawakkal nya itu sampai kondisi seperti itu. Sampai di top nya usaha kita. Bagaimana kita mengupayakan kebaikan dalam kehidupan kita. apakah tawakkal kita seperti itu?

Itu adalah orang-orang yang mencintai اَللّهُ. Dan اَللّهُ mencintai mereka. Jadi kalau kita membenci orang-orang itu, berarti kita juga membenci اَللّهُ. Berati cinta kita kepada اَللّهُ itu palsu.

Mencurigai orang yang dicintai اَللّهُ itu berarti mencurigai اَللّهُ. Atau menuduh mereka itu dengan tuduhan keji, teroris misalnya.

Kita harus mengedepankan husnudzon pada orang-orang yang berbuat baik. Jangan kebalik. Contohnya kita memfitnah HRS tentang chat mesum. Padahal banyaknya yang dia lakukan itu untuk kebaikan Islam. Ingat! Kita harus mengedepankan husnudzon pada orang-orang yang berbuat baik.

Demikian juga terhadap teman baik kita. yang kita sering berinteraksi. Dan kita mengenalnya sebagai orang baik. Ketika dilanda fitnah, kita harus mengedepankan husnudzon. Urusan kita adalah, apa yang kita tau. Masalah daleman itu urusan اَللّهُ.

Kalau ke diri sendiri, sebaliknya kita harus periksa nih jangan-jangan ada asap dari riyanya kita. Benar nggak ya yang saya lakukan ini karena اَللّهُ…ahh saya lakukan ini karena pingin dibilang baik aja. Nah itu kita perbaiki.

Kalau ke diri kita, kita harus teropong sampai dalam. Kalau ke orang lain, kita hanya lihat zohir. Kita tau si A orang baik. Ya orang baik. Tapi kan dia begini katanya…itu kan katanya. Nah sekali lagi, kita harus mengedepankan husnudzon kepada saudara kita. dan itu harus dilatih.

Karena kecintaan kita pada اَللّهُ ada konsekuensinya dengan kita mencintai orang-orang yang mencintai اَللّهُ juga.

Kemudian, siapa saja yang dicintai oleh اَللّهُ maka akan dicintai okeh penduduk lagit. Apabila اَللّهُ mencintai hambanya maka اَللّهُ memanggil Jibril,”Sesungguhnya اَللّهُ mencintai fulan, maka cintailah dia.” Maka Jibril pun mencintainya. Jibril-pun memanggil penduduk langit dan mengabarkan bahwa, “Sesungguhnya اَللّهُ mencintai fulan, maka cintailah dia.”

Jadi kalau kita dicintai اَللّهُ maka, اَللّهُ akan mengabarkan itu lewat malaikat Jibril. Dari amal-amal kita yang اَللّهُ sukai dan اَللّهُ kabarkan kepada Jibril.

Nah اَللّهُ itu mencintai apa sih? Berarti kita harus neropong nih yang tadi, bahwa اَللّهُ mencintai orang yang disebutkan di atas tadi.

Kita kan suka gini ya…”Emang saya salah apa sampai dapat ujian kaya’ gini?” Ohh kita nggak boleh nanya gitu. Kita ini sumber salah. Kita bertanya kita salah apa aja, itu udah salah. Karena kita sumbernya salah. Berapa banyak kita sholat bisa khusu’ dari takbiratul ihram hingga salam? Baru sebentar aja kita udah ingat… belum matiin kompor, lupa matiin setrikaan, kan suka gitu ya kalau lupa sesuatu. Dalam sholat ntar ingat urusan-urusan kita. Rakaat sholat aja kita kadang lupa udah ke berapa.

Nah itu aja udah kesalahan, kenapa kita selesai sholat disuruh istighfar. Karena kita nggak tau berapa kali kita bisa melakukan kesalahan bahkan dalam sholat sekalipun. Sholat berjamaah pun kita bisa meleng. Ingatan kemana-mana. Masih bertanya kita salah apa ketika datang ujian?

Kita harus kejar, amal apa sih yang اَللّهُ sukai?
Amal itu aslinya adalah siri, tersembunyi. Kalau bisa, kita punya amalan tersembunyi. Kenapa? Karena Rosul suka mengerjakan itu. Amalan yang kalau bisa, bahkan keluarga kita nggak tau. Bahkan orang-orang dekat kita nggak tau. Terus cangkem ini jangan ngejeblak. Kudu dijaga. Kadang kita suka panas ya. Tinggi-tinggian amal.

Atau misalnya, ada orang yang kita bantu, suatu hari dia bikin kesal kita padahal kita udah tutup nih kebaikan kita pada dia, akhirnya keluar juga.

Amal-amal siri itu amal-amal yang sebetulnya, lebih aman dari riya. Jadi kalau orang nggak tau kita ngamal, itu sebenarnya potensi riyanya jadi lebih kecil.

Siri itu salah satunya juga untuk menjaga keikhlasan, jadi kita secara sadar niy kudu ngajarin diri kita untuk nggak riya, nggak pamrih, nggak nyebut. Itu harus pelan-pelan dan dengan sadar kita latih diri kita. Godaannya memang luar biasa. Kalau rasa riya mulai muncul, kita istighfar. Karena nanti sampai ujung hayatpun, diuji itu.

Kadang-kadang seseorang udah bagus nih nyimpan amalannya…tiba-tiba kaya’ mitraliur, disebut padahal bertahun-tahun ditutup, tapi karena sebuah peristiwa, terjadinya kaya’ gunung api. Pas keluar…ya اَللّهُ…timbul penyesalan. Karena begitu kita nyebut berkurang amalan kita. Peluang untuk kita riyapun besar.

Selain yang disebutkan Qur’an, sesungguhnya اَللّهُ mencintai orang-orang yang :
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berssabda,”Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertaqwa, kaya, dan tersembunyi.” (HR. Muslim, no. 2965)

Bayangkan, bertaqwa, kaya, lagi tersembunyi. Kog bisa orang hidup di dunia seperti itu? Susah kan! Jadi kalau ada orang kaya, yang taqwa dan tersembunyi itu amalannya luar biasa.Hamba yang menampakkan nimat اَللّهُ.

Hamba yang mukmin, faqir , tapi tidak meminta-minta, dia menjaga dirinya.

Kita bisa tau seseorang itu miskin karena kelihatan miskin kan? Tapi bagaimana kita tau orang miskin yang nggak kelihatan miskin padahal dia susah? اَللّهُ menyukai orang seperti itu. Mumin yang profesional.

Jadi, mau kita sebagai guru, kita sebagai dokter atau sebagai apa, ya kita bekerja dengan sangat profesional. Ternyata itu sesuatu yang dicintai oleh اَللّهُ.

Orang yang hatinya sedih
Orang yang gigih dalam berdoa.

Doanya nggak gampang teralih. Mungkin kita termasuk orang yang mempunyai banyak banget keinginan. Yuk, kita coba memperbanyak istighfar.
Walaupun اَللّهُ menerima semua doa kita, tetap istighfar aja sebanyak-banyaknya. اَللّهُ akan kabulkan doa kita tapi bukan dengan cara kita, dengan cara اَللّهُ.

Wanita yang lembut dan tampil cantik saat bersama suaminya dan menjaga diri ketika di hadapan orang lain.

Nah ini niy yang kadang-kadang kita tinggalkan. Apalagi kalau udah bertahun-tahun menikah. Tampil cantik di depan suami? Setahun dua tahun iya. Udah di atas 10 tahun masih ada nggak yang tampil cantik?

Meskipun secara mata kasar orang melihat seorang wanita itu tidak cantik, tapi tetap wanita itu adalah fitnah. Jadi jangan pernah berpikir bahwa kita itu tidak menarik. Nggak. Perempuan yang lemah lembut menarik, perempuan yang madiri menarik, perempuan yang tegas pun menarik.

Kalau setiap hari suami menemui perempuan yang lemah lembut, terus dia menemui sosok perempuan yang ‘wahh kog dia bisa mengambil keputusan setegas itu ya?’. Itu menjadi sesuatu yang menarik.
Mau cantik mau jelek mau hitam mau putih wanita itu fitnah.
Karena Rosululloh bilang,”Tidak sekali-kali aku tinggalkan suatu fitnah yang paling membahayakan diri kalian, selain fitnah perempuan.” (HR. Imam Bukhari no. 4808)

Jadi kita ini ujian yang paling besar bagi laki-laki.
“Ah nggak gua kan nggak menarik!” Ohh nggak begitu!! Kita yang harus tetap menjaga diri. Kita ngomong agak menye-menye dikit aja itu bisa jadi ujian bagi laki-laki. Jadi masalahnya bukan kita menarik atau nggak…karena mungkin saja dia baru menemukan sosok yang seperti itu.

Orang yang tawadhu.

Orang yang ilmu padi.

Makin berisi makin nunduk. Kita harus mencintai orang-orang yang tawadhu. Seperti kyai-kyai pesantren, ustadzah yang udah sepuh…guru-guru desa yang tanpa pamrih memberi ilmu…

Orang yang murah hati, berani dan pecemburu.

Jadi kalau kita nggak cemburu sama pasangan kita, اَللّهُ nggak mencintai kita. Contohnya laki-laki yang nggak cemburu sama istrinya, mau kemana aja silahkan saja. Atau anak perempuannya boleh kemana saja dibawa laki-laki yang bukan muhrim. Itu bukan orang yang dicintai اَللّهُ.

Orang yang murah hati. Kalau ada orang minta tolong dia membantu. Mungkin nggak selalu duit ya. Walaupun kita nggak bisa ngasi solusi ke orang yang minta bantuan, kita bisa ngasi arahan untuk orang yang susah itu.
Dan orang-orang yang susah itu selalu ada di setiap detik kehidupan kita. Orang yang butuh kita itu selalu ada.

Misal kita nggak sengaja menemukan orang yang mencari alamat. Kita ingatin nih …”Oh iya ya orang yang dicintai اَللّهُ adalah orang yang murah hati.” Kan nggak semua orang juga mau bantu ketika ditanyain alamat. Ada orang yan asem ketika ditanyain orang yang lewat. Tapi ternyata memang orang yang murah hati, pemberani dan cemburu itu ternasuk orang yang dicintai okeh اَللّهُ.

Murah hati itu, kita memberikan bantuan pada orang lain. Jadi kalau kita lagi malas, lagi pelit sama orang…ingatin! اَللّهُ akan selalu bantu kita selama kita bantu orang lain.

Misalnya niat kita bantu orang niy…tapi di perjalanan lama-lama kog dia jadi benalu gitu, balik lagi, itu ujian keikhlasan. Kan niat kita udah benar, niatnya kita bantu orang, jadi kita tetap semangat.
Supaya kita selalu optimis, kalau pun kita jadi susah, coba kita tengok ke diri kita. Oooh ternyata di awal memang kita ragu. Jadi dengan diuji itu, اَللّهُ ingin kita bersih niatnya. Kan kalau kita bisa melewati keraguan itu, jadi bersih, jadi lurus lagi kan…”Ooh ternyata niat saya diluruskan.” Tawwabin… kita bertobat.

Mudah-mudahan kita dalam mencintai اَللّهُ swt itu bisa memperhatikan hal-hal tadi. Bahwa kecintaan pada اَللّهُ itu harus ada loyalitasnya, harus ada konsekuensinya. Konsekuensi itu berarti ada buktinya. Kita bisa mencintai siapapun selama kerangkanya adalah cinta pada اَللّهُ maka itu jadi pahala. Cinta sama pasangan kita, cinta pada anak kita, cinta sama benda kita. .
Cinta sama benda kita itu, kita pingin benda itu ketemu kita lagi nanti di akhirat. Caranya sedekahin, ikhlasin. Kalau kita keukeupin buat kita…buat kita…buat kita, berarti kita nggak cinta sama diri kita.

Jadi amal baik itu sebenarnya bentuk kecintaan kita pada diri sendiri. Kita misalnya mau pelit, ingat..pelit sekarang, nanti kita nggak punya apa-apa di akhirat. Kalau kita mau berbuat buruk, kalau ada bujukan setan, ingat lagi…”Kalau kaya’ gini gua nyusahin diri gua sendiri.”

Biasanya kalau kita berpikir diri kita, kita nggak egois. Nah dibalik sekarang, apa bekal kita ke akhirat. Jadi kita gampang ngerjain yang susah-susah di dunia. Karena kita tau itu akan kita bawa nanti.

Kalau kita mikirnya di dunia, berat kita. Kita mau ngasi orang, kita juga butuh. Kita mau sabar sama orang, enak banget dia tiap hari provokasi kita, terus kita harus bersabar…nah itu kan kalau kita pikir dunia ya. Kalau kita pikir dunia kita nggak akan kuat. Tapi kalau kita pikir semua sabar ini kita bawa balik ke akhirat maka in syaa اَللّهُ, اَللّهُ akan ngasi cinta-Nya lagi.

“Ya اَللّهُ saya pingin sabar karena saya cinta sama اَللّه “ُ. اَللّهُ akan bantu kita dengan kita dikasi keteguhan.

Ini semua memang terkesan enak banget. Tapi sebenarnya ngejalaninya luar biasa ya.
Jadi ketika kita diminta membuktikan cinta kita kepada اَللّهُ itu, اَللّهُ ngujinya nggak setengah-setengah. Ujian-Nya itu bisa, kalau ibarat pohon dicabut sampai akarnya. “Benar nggak kamu mencintai Aku?”

Jadi sebetulnya ujian kehidupan kita itu semua pertanyaannya, “Benar nggak sih kita mencintai اَللّهُ?” Cinta kita, cinta yang sejati apa cinta palsu?

Ketika اَللّهُ sudah ngasi cinta اَللّهُ pada kita, maka اَللّهُ hadirkan cinta semua makhluk, اَللّهُ kasi kemudahan kita ketika kita berurusan sama orang. Kita bisa berharap itu bentuk اَللّهُ mencintai kita. mudah-mudahan seperti itu.

Ini mudah mengucapkannya, tapi dalam kenyataan melaksanakannya seperti nangis darah. Memang اَللّهُ itu tuntut, kecintaan tertinggi itu adalah mati syahid. Syahid itu katanya, rasanya memang seperti digigit semut. Sementara kalau mati biasa, nggak pake mati syahid itu, 1000 kali tebasan pedang. Makanya orang-orang yang mati syahid itu disebutkan dia hidup di sisi اَللّهُ dan pingin balik lagi ke dunia pingin ngabari, mati syahid lah karena rasanya itu kaya’ digigit semut.

Wallahu A’lam Bishawab

Catatan Diana
Jakarta, 120119

Gambar : ilustrasi (google)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed