BATAMBicara

NU dan Muhammadiyah Mundur dari Program POP Kemendikbud, Dana Hibah Setengah Triliun Salah Sasaran

BATAMBicara | Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Menteri Nadiem Makarim, menggagas Program Organisasi Penggerak atau POP. Program tersebut memiliki tiga skema pembiayaan, yakni menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pembiayaan mandiri dan dana pendamping.

Dengan skema tersebut dua lembaga besar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah menyatakan mundur dari lembaga pendidikan dari NU dan Muhammadiyah terkait Program tersebut, kedua pihak pun sama-sama mengungkapkan bahwa ada kejanggalan dalam proses seleksi.

Menanggapi keputusan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menghormati keputusan yang diambil PP Muhammadiyah dan Lembaga Pendidikan Maarif NU dan Muhammadiyah. Pihaknya pun mengatakan tetap terus menjalin komunikasi dan koordinasi.

Kepala Biro Kerjasama dan Humas Kemendikbud Evy Mulyani menyatakan, pihaknya tetap menghargai mundurnya dua ormas Islam besar di Indonesia itu dengan tetap memperkuat koordinasi dengan ormas yang masih bertahan dalam program ini. “Kami menghormati setiap keputusan peserta Program Organisasi Penggerak. Kemendikbud terus menjalin komunikasi dan koordinasi yang baik dengan seluruh pihak sesuai komitmen bersama bahwa Program Organisasi Penggerak bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia,” kata Evy Mulyani kepada media. Rabu (22/7/2020).

Meski Muhammadiyah mencurigai adanya kejanggalan dalam Program Organisasi Penggerak ini, Evy, sebagaimana mengutip Suara.com, menyatakan bahwa Kemendikbud sudah merancang program ini secara matang dengan prinsip transparansi yang benar. “Program Organisasi Penggerak dilaksanakan dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan independensi yang fokus kepada substansi proposal organisasi masyarakat,” katanya.

Terkait dengan proses seleksi ormas penerima dana hibah Program Organisasi Bergerak, Evy menegaskan bahwa, evaluasi dilakukan lembaga independen, melibatkan SMERU Research Institute, menggunakan metode evaluasi double blind review.

Dalam arti metode tersebut tidak memungkinkan seseorang tahu ormas dan evaluatorny, dengan kriteria yang sama untuk menjaga netralitas dan independensi. “Kemendikbud tidak melakukan intervensi terhadap hasil tim evaluator demi memastikan prinsip imparsialitas,” jelasnya.

“Evaluasi dilakukan lembaga independen, SMERU Research Institute, menggunakan metode evaluasi double blind review dengan kriteria yang sama untuk menjaga netralitas dan independensi. Kemendikbud tidak melakukan intervensi terhadap hasil tim evaluator demi memastikan prinsip imparsialitas,” ujarnya.

Sebelumnya, Muhammadiyah melihat ada kejanggalan dari 156 lembaga pendidikan ormas yang nantinya akan mendapatkan hibah dana dari Kemendikbud, seperti perusahaan besar seperti Yayasan Putera Sampoerna dan Yayasan Bhakti Tanoto yang ikut mendapatkan dana hingga ormas yang tidak jelas asal-usulnya.

Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah, Kasiyarno, memgungkapkan bahwa ada terdapat keganjalan yang tidak sesuai dan salah sasaran. “Ada organisasi besar yang konon CSR suatu perusahaan, ada juga lembaga mungkin ada kedekatan dengan pejabat di dalam. Nah ini kita pertanyakan, apakah proses verifikasi dan seleksi ini transparan, bisa dipercaya,” ungkapnya kepada media. Rabu (22/7/2020).

Sebagai informasi, program Organisasi Penggerak Kemendikbud merupakan program peningkatan kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang dilakukan ormas dengan dana hibah dari pemerintah senilai total Rp 595 miliar.

Ormas yang lolos seleksi akan diberi dana yang besarnya dibagi kategori. Kategori gajah diberi dana hingga Rp 20 miliar, Kategori Macan dengan dana hingga Rp 5 miliar, dan Kategori Kijang dengan dana hingga Rp 1 miliar.

Ormas calon penerima Program Organisasi Penggerak Kemendikbud yang lolos disahkan lewat surat Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan tanggal 17 Juli Tahun 2020 Nomor 2314/B.B2/GT/2020 yang ditandatangani Direktur Jenderal GTK, Iwan Syahril.

Yayasan Putera Sampoerna lolos untuk mendapatkan dana Kategori Macan dan Gajah, lalu Yayasan Bhakti Tanoto lolos dalam Kategori Gajah sebanyak dua kali (Pelatihan guru SD dan SMP).

Uniknya, dari informasi, lembaga pendidikan NU dan Muhammadiyah yang merupakan organisasi terbesar di Indonesia justru jauh lebih kecil dari yang diterima Yayasan Putera Sampoerna dan Yayasan Bhakti Tanoto. (**)

Redaksi Batam Bicara

Komentari Berita

Most popular

Most discussed