BATAMBicara

Perseteruan Wiranto VS Kivlan Zein

Batambicara.id (28/02/2019). Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto membantah pernyataan Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen yang menyebutnya sebagai dalang kerusuhan tahun 1998.

Wiranto pun menantang mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) itu untuk sumpah pocong.

Wiranto turut mengajak calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat Panglima Kostrad.

“Saya berani, katakanlah berani untuk sumpah pocong saja. Tahun 1998 itu yang menjadi bagian dari kerusuhan itu, saya, Prabowo, Kivlan Zen, sumpah pocong kita,” kata Wiranto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (26/2/2019).

Mayjen TNI Kivlan Zen menantang balik Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto untuk melakukan adu debat. Tantangan itu ia lontarkan setelah Wiranto menantang dirinya melakukan sumpah pocong mengenai tuduhan sebagai dalang peristiwa kerusuhan 1998.

“Saya tantang dia debat. Berani engga dia? Jangan sumpah pocong, itu sumpah setan. Sumpah ya demi Allah, sesuai sumpah prajurit,” ungkap Jendral yang bergelar S.IP, M,Si ini.

Mayjen TNI Kivlan Zen, S.IP, M.Si adalah seorang tokoh militer Indonesia. Ia pernah memegang jabatan Kepala Staf Kostrad ABRI setelah mengemban lebih dari 20 jabatan yang berbeda, sebagian besar di posisi komando tempur.

Bahkan, Kivlan mengajak Wiranto untuk ke Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) dan menjelaskan peristiwa yang terjadi pada 1998. Ia juga menyebut perihal dana nonbujeter Bulog sebesar Rp10 miliar yang diklaim diterima oleh Wiranto pada 2003. Uang tersebut disebut-sebut digunakan untuk mendanai pasukan pengamanan swakarsa (PAM Swakarsa). “Suruh kasih saya Rp10 miliar yang dia terima dari Bulog,” kata Kivlan.

Saat itu, Wiranto menyangkal menggunakan dana nonbujeter Bulog Rp 10 miliar itu untuk kepentingan pribadi. Ia mengatakan dana tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan taktis pengamanan agenda reformasi.

Perseteruan Kivlan Zein dan Wiranto berawal pada saat Kivlan Zein menuding Wiranto sebagai dalang kerusuhan 1998 dalam acara ‘Para Tokoh Bicara 98’ di Gedung Ad Premier, Jakarta Selatan, pada Senin, 25 Februari 2019. Selain menuding dalang kerusuhan, Kivlan juga menyebut Wiranto memainkan peranan ganda dan isu propagandis saat masih menjabat sebagai Panglima ABRI.

Tak terima, Wiranto pun menantang Kivlan dan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto melakukan sumpah pocong agar menjadi jelas duduk perkaranya. Ia tidak ingin ada lagi yang menuduhnya dalang kerusuhan Mei 1998.

Kivlan justru mempertanyakan motif Wiranto yang turut menantang Prabowo untuk sumpah pocong soal dalang kerusuhan 1998.

Padahal, calon presiden nomor urut 02 yang juga mantan Panglima Kostrad itu sama sekali tak pernah menyinggung Wiranto terlibat kerusuhan.

“Kan saya yang bilang Wiranto dalang kerusuhan. Kok tahu-tahu Prabowo juga diajak sumpah pocong? Ini maksudnya apa?” tutup Purnawirawan kelahiran Kota Langsa, Aceh 72 tahun yang lalu itu.

Sumber : Tempo

Tribun

Menyikapi Sumpah Pocong

Awak media batambicara.id bertanya kepada Ustadz Ahmadin tentang adanya sumpah pocong di dalam Islam. “Di Islam memang tidak ada ini (sumpah pocong, red) suatu tradisi tempatan, yang mana menguatkan ucapan seseorang dalam bersumpah, walau tidak langsung meninggal, seperti contohnya, tapi mungkin bisa saja terjadi beberapa hari, minggu bahkan bulan berikutnya. Tapi semua itu (hal yang terjadi, red) Allah yang Maha lebih tau”.

Definisi Sumpah Pocong

Kita sering mendengar istilah sumpah pocong dan beberapa kalangan masyarakat juga sering mempraktekkan ritual ini. Sesuai namanya, sumpah pocong merujuk pada sumpah yang dimbil dari seseorang dengan mengenakan kain kafan seperti pocong atau jenazah yang akan dimakamkan. Sumpah pocong biasanya diambil jika seseorang meyakini suatu kebenaran namun orang lain atau pihak lain tidak meyakini kebenaran tersebut atau tidak memiliki bukti misalnya jika seseorang dituduhkan melakukan sesuatu yang menyimpang atau berbuat kesalahan sementara ia tidak mau mengaku.

Hukum Sumpah Pocong

Entah siapa yang membawa kebiasaan sumpah pocong tersebut dalam masyarakat yang sebagian besarnya adalah umat muslim, intinya islam tidak mengenal adanya sumpah pocong karena dalam sejarah Rasul SAW dan sahabatnya tidak pernah melakukan hal tersebut (baca kisah teladan nabi muhammad dan sejarah agama islam). Bahkan sumpah pocong dalam islam dianggap sebagai suatu bentuk kemusyrikan dimana bersumpah pada selain Allah SWT adalah suatu perbuatan syirik yang tidak diampuni Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam dalil berikut :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمً

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS An Nisa : 48)

Dalil Sumpah Pocong

Suatu ketika orang-orang Yahudi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya kalian telah berbuat syirik, kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakku’ dan kalian mengatakan, ‘Demi Ka’bah’…” (HR. Nasa`i dari Qutailah)

“Di dalam Islam cukup bersumpah Wallahi (demi Allah), sudah cukup itu saja, tanpa ada sumpah-sumpah yang menyebut dan demi apapun kecuali hanya demi Allah. Yang selain sumpah itu, hanya boleh Allah SWT. Contoh, demi langit dan bumi, demi waktu pagi dan lain sebagainya. Tutup Ustadz yang berdomisili di Batam ini.

Sumber : dalamislam.com

Redaksi Batam Bicara

Komentari Berita

Most popular

Most discussed