Maritim

Bangun Mercusuar di Karang Singa, Kemhan: Tak Ingin ada Sengketa di Perbatasan

BATAMBicara | Kepri – Pemerintah memastikan akan membangun mercusuar di Pulau Karang Singa, Kabuaten Bintan, Kepulauan Riau, Lokasi ini tepatnya berada di daerah perbatasan (perairan) Indonesia dengan Malaysia dan Singapura.

Pembangunan juga sempat ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan M Herindra. Mercusuar yang dibangun sebagai simbol kedaulatan negara ini akan dikerjakan pada Februari, dan dibangun dengan struktur permanen dan dilengkapi fasilitas helipad.

Pembangunan mercusuar dan helipad ini dilakukan oleh Kementerian Pertahanan dan akan dilanjutkan oleh Kementerian Perhubungan. Mercusuar dengan struktur permanen ini disebut sebagai titik penanda kedaulatan Indonesia.

Wamenhan menyatakan pemerintah tidak ingin lagi timbul sengketa yang membuat wilayah Indonesia jatuh ke tangan negara lain.

“Kita tidak ingin kejadian sengketa antara Indonesia dan Malaysia terkait perebutan Pulau Sipadan dan Ligitan yang akhirnya dimenangkan Malaysia di Mahkamah Internasional pada 2002 terulang,” ujar Herindra, dikutip dari keterangan resmi Kemhan, Jumat (14/1/2022).

Pulau Karang Singa ini terletak di Selat Malaka. Perairan ini adalah salah satu jalur lalu lintas laut terpadat di dunia.

Karena itu, pemerintah bersikap bahwa kawasan ini harus dijaga dan diberi tanda bahwa itu adalah wilayah Indonesia. Di sekitar kawasan ini sendiri, Singapura telah menguasai teritorial Batu Putih (Pedra Branca), sementara Malaysia sudah menguasai Karang Tengah (Middle Rock).

“Tak boleh ada lagi sejengkal tanah yang boleh diambil oleh negara lain, kita harus tunjukkan kedaulatan kita” ujar Herindra.

Saat peninjauan lokasi, Kamis (13/1), Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga menyatakan poin terpenting pembangunan adalah agar tidak terlalu timpang dengan infrastruktur yang telah dibangun Pemerintah Malaysia di Pulau Karang Tengah.

“Poin pentingnya adalah jangan jomplang. Di Malaysia mereka sudah membangun struktur permanen, sementara wilayah kita itu hanya ada ‘buoy’ (pelampung) saja. Belum permanen,” kata Tito.

Sementara sebelumnya di Pulau Karang Singa hanya ada pelampung yang ukurannya kecil. (**)

iNews

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button