oleh

Kapal Laut, Bagasi Berbayar

Batambicara.id (1/3/2019). PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Cabang Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai menerapkan program ‘Redpack’ (responsibility excellent delivery) dalam melayani barang bawaan penumpang dengan dikenakan biaya.

Kepala PT Pelni Cabang Baubau, Capt Akhmad Sadikin mengatakan, program memberi label pada barang bawaan penumpang seperti halnya penumpang maskapai penerbangan adalah untuk lebih mempermudah pengguna jasa kapal laut itu agar tidak repot akan barang bawaannya yang berlebihan.

“Jadi nanti itu kami beri label. Cukup dilaporkan ke Pelni untuk ditimbang dan dibayar sesuai kriteria. Jadi kami layani penumpang sehingga mereka tidak repot-repot dengan barang bawaan,” ujarnya seperti dikutip dari Antara. 

Terkait biaya yang akan dikenakan dalam pengiriman barang yang akan dibawa melalui kapal milik perusahaan BUMN tersebut, kata dia, tergantung jauh dan dekatnya tujuan penumpang hingga disesuaikan dengan kriteria yang ada.

“Jadi mereka bisa tinggal menyampaikan apakah barangnya mau diterima di pelabuhan tujuan atau bisa di tempat tinggalnya, tergantung dari transaksinya,” ujar Akhmad Sadikin, seraya menyebutkan Pelni baru merintis usaha barang bawaan penumpang itu.

Dia juga mengatakan penumpang yang membawa barang seberat 50 kilogram untuk dipakai selama perjalanan di atas kapal tidak dipungut biaya alias gratis.

“Program ini sudah dilaksanakan pada awal tahun ini dan telah ada penumpang yang memanfaatkannya. Namun kami masih terus menyosialisasikannya dengan memberikan pemahaman kepada calon penumpang,” ujarnya.

Dikatakannya pula, program ‘Redpack’ tersebut tidak hanya diberlakukan oleh Pelni Baubau, tetapi seluruh cabang Pelni telah melaksanakan itu.

Sementara itu, Kepala Seksi Lalu lintas Angkutan Laut dan Pelayanan Jasa Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas 1 Baubau Suparno mengatakan pihaknya mendukung program pengiriman barang yang rencana akan diberlakukan oleh Pelni.

“Kami sangat setuju karena di situ nanti ada suatu ketertiban dan kenyamanan penumpang. dan ini baru sosialisasi,” ujarnya.

Terminal Ferry Penumpang Tanjung Balai Karimun

Lain halnya penumpang bernama Syaiful yang kerap bepergian menggunakan Kapal Ferry penumpang dari Batam dengan tujuan Tanjung Balai Karimun (TBK). Syaiful selain urusan bisnis dalam hal berdagang memang memiliki rumah di pulau yang bersebelahan dengan Selat Malaka ini. Saat dia membawa barang dagangannya berupa konveksi dan lain sebagainya, di kenakan bagasi tax ketika mau masuk ke Kapal Ferry bersamaan barang dagangannya yang di bantu angkat oleh Porter (petugas angkut barang di pelabuhan).

Kepada awak media batambicara.id yang pernah menjadi Nakhoda Kapal Ferry rute Batam – TBK ini. Syaiful menuturkan,

“Saat ingin memasuki Kapal saya sudah bayar bagasi dengan crew Kapal yang besarannya Rp. 30.000,. Perkarung, jika saya tidak ikut berlayar, tapi kalau saya ikut bersama barang tidak segitu, hanya alakadarnya saja, karen toh saya sudah lama kenal dan saya langganan Ferry ini, tapi ini memang sudah lama berlaku, ya bantu-bantu ABK (anak buah kapal) untuk uang kopi lah, karena mereka juga membatu menaikkan dan menjaga barang saya itu” tutup Syaiful sambil mengemas-ngemas barang dagangannya yang sudah tiba di Pelabuhan TBK.

Batambicara.id ketika mengkonfirmasi kepada Mualim (perwira deck di kapal), mengatakan, Kapal Ferry memang di peruntukkan buat mengangkut penumpang (orang) bukan mengangkut barang, seandainya penumpang membawa barang lebih atau over, itu kami tidak membebankannya, hanya calon penumpang yang menitipkan barangnya, dan calon penumpang itu tidak ikut berlayar (berangkat) di situ kami kenakan ongkos penitipan barangnya, anggap lah itu tiket atau pengganti orang yang besarannya di sebut di atas tadi, tidak seharga tiket (Rp.80.000,.) sekali jalan Batam – TBK ini. Selain barang titipan itu tanggungjawab kami, khususnya saya selaku Mualim perwira yang bertanggungjawab atas muatan barang dan penumpang. Memang peraturan secara tertulis tidak ada, tapi yang namanya kami di titipkan barang, baik itu barang dagangan maupun lain sebagainya, selagi bukan barang terlarang, semua kami layani dengan sepenuh hati. Ujar seorang perwira Kapal Ferry yang berseragam putih ini mengakhiri pembicaraanya.

(*)

Sumber : BatamNews

Batambicara.id

Fhoto : Ilustrasi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed