BATAMBicara

Pengecoran Jalan di Nagoya Newton Batam Tidak Sesuai Standardisasi

BATAMBicara | Batam – Pengerjaan struktur di jalan DC Mall Jodoh atau tepatnya di deretan ruko Nagoya Newton, Batam, yang dikerjakan oleh CV. Cahaya Maju Abadi, namun proyek tersebut tidak mengikuti prosedur standardisasi.

Proyek pengerjaan pengecoran dengan nilai kontrak Rp 1.559.460.089, itu dilakukan pada saat jalan tergenang air dan dalam kondisi tanah yang masih labil sehingga mengurangi kekuatan dan mutu pengecoran.

Selain dari pengecoran dalam kondisi air tergenang, jalan yang baru 2 hari selesai di cor sudah dilalui oleh truk-truk seperti truk molen dan mobil berat lainnya yang melintas.

Dari dua kejanggalan itulah yang membuat salah seorang warga merasa tidak puas dan menghubungi BATAMBicara. Jum’at (20/08/2021).

Awak media mencoba mengkonfirmasi kepada pihak terkait, dalam hal ini Kabid Jalan Bina Marga Kota Batam, Dohar Hasibuan.

Namun saat di hubungi via telepon yang bersangkutan tidak bisa dihubungi. Sehingga di tanyakan pesan melalui whatsapp, namun tidak ada juga balasan.

Belum diketahui mengapa hal tersebut bisa terjadi, “padahal dilapangan ada petugas pengawas dan konsultan pengawas yang mengawasi proyek ini. Tapi mengapa pengecoran dilakukan di malam hari? Tidak di siang hari, agar kita juga ikut menyaksikan pengerjaan tersebut”, kata seorang warga yang tidak mau menyebutkan namanya.

Terlihat tidak jauh dari lokasi pengecoran terpampang di papan proyek, konsultan pengawas oleh CV Bintang Pratama Konsultant (BPK).

Saat di lokasi proyek, awak BATAMBicara tidak menemukan seorang konsultan pengawas baik dari CV BPK maupun dari Bina Marga Kota Batam disana. Hanya ada beberapa orang pekerja sedang mempersiapkan besi dan satu buah alat berat parkir disana.

Kemana pengawasnya?
Pertanyaan ini lah yang timbul dari warga atas pengerjaan yang lari dari standardisasi pengecoran jalan ini.

Dilansir dari laman Journal.Uny.ac.id, bahwa pengecoran pada saat air tergenang akan mempengaruhi kekuatan dan mutu beton itu sendiri, dimana genangan air yang terdapat pada daerah pengecoran berpotensi mempengaruhi komposisi adukan khususnya pada faktor air semen (fas).

Hal tersebut dapat mengakibatkan kuat tekan beton (f’c) berkurang sehingga mengakibatkan mutu beton menjadi berkurang.

“Berdasarkan hasil penelitian maka kualitas beton yang dicor dalam kondisi tergenang air jauh lebih rendah dari nilai kuat tekan beton desain. Persentase penurunan kuat tekan beton yang dicor dalam kondisi terendam air berkisar antara 30,82% sampai dengan 32,63% terhadap kuat tekan beton normal. Semakin tinggi genangan air maka semakin rendah kuat tekan beton dan terdapat kesesuaian antara pengukuran kuat tekan beton menggunakan UTM dengan uji hammer dan UPV”, tulis laman survey UGM tersebut.

Apakah ada indikasi ‘kongkalikong’ antara kontraktor dengan oknum petugas?
Sehingga kontraktor leluasa melakukan pekerjaan tidak sesuai standar yang dapat mengurangi mutu dan kualitas.

Sampai berita ini diterbitkan belum ada pihak terkait yang dapat di konfirmasi. (rzl/bbid)

Redaksi Batam Bicara

Komentari Berita

Most popular

Most discussed