BATAMBicara

Menghindari Rationing, BP Batam dan ATB Berikan Solusinya

Waduk Sei Ladi yang kini kondisinya mengkhawatirkan dan dapat terancam kering (dok/bb/9/3/2020)

Batambicara.ID (11/3/2020) | Batam – Hujan yang jarang turun di Batam dan sekitarnya membuat beberapa waduk terancam kering. Sehingga dalam waktu terdekat, PT Adhya Tirta Batam (ATB) selaku penyuplai air bersih berancang-ancang akan melakukan rationing alias penggiliran aliran air.

Rencana ATB melakukan penggiliran aliran air ini dengan skema 2-5 dan saat ini masih disusun jadwalnya.

Sehingga masyarakat merasa dihantui dengan penggiliran suplai air ini. Terlihat masyarakat sudah banyak membeli drum – drum air baru maupun bekas, guna untuk mengantisipasi jika air 2 hari tidak mengalir dirumah mereka.

Ahmad warga Batam Center saat membeli sebuah drum dibilangan Kampung Air Batam Center mengatakan, “dirumah saya tidak ada bak mandi, hanya ada beberapa drum. Maka itu saya membeli lagi untuk penampungan jika nanti ATB jadi menrationing”, ringkasnya.

Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus mengungkapkan, rencana rationing dengan skema 5 hari on dan 2 hari off masih bisa dihindari.

Yakni dengan transfer air baku dari Dam Tembesi ke Dam Mukakuning.  

“Ini masih meeting. Yang jelas jadwal rationing itu skemanya 2-5, 2 hari off 5 hari on,” ungkapnya, mengutip TribunBatam, Selasa (10/3/2020).

Ia pun berharap warga Batam tak lupa untuk berdoa agar hujan dapat turun beberapa hari ke depan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketersediaan air baku di 6 waduk saat ini sangat bergantung pada tingginya curah hujan.

“Didoakan saja, Batam hujan deras lagi” sambungnya.

Dalam satu minggu akan dilakukan dengan skema yang diambil yakni lima hari mengalir dan dua hari mati.

Rationing di wilayah Piayu, Mukakuning akan dilangsungkan pada 15 Maret 2020 mendatang”, ujar Maria, Kamis (5/3/2020).

Maria menegaskan penggiliran ini dilakukan untuk memperpanjang umur Dam hingga 6 Juli 2020.

Lantas mengapa dilakukan penggiliran?

Tanpa penggiliran, stok air bersih diprediksi akan bertahan hanya sampai 13 Juni 2020.

Dari 228.900 pelanggan, sebanyak 196 ribu akan terdampak, dengan komersial 30 ribu dan industri 3290 terdampak.

“Sebanyak 196 ribu dari 280 ribu yang terdampak, itu sama dengan 82 persen total dari semua pelanggan domestik di Batam. Kemudian, yang pelanggan komersil, 89 persen dari total komersil di Batam. Serta untuk industri, jumlahnya 98 persen dari industri di Batam,” papar Maria kembali.

Sementara itu untuk lokasi pelanggan yang terdampak rationing, terdampak di 17 lokasi pelanggan.

Maria meminta BP Batam turut serta memberikan edukasi hemat air dan sosialisasi secara proaktif.

Selain itu, kata dia, penting juga dilakukan screening pelanggan industri dan komersial. Misalnya pabrik plastik. Jadi penting melihat pelanggan yang menggunakan banyak air, terutama pabrik plastik.

Mengandalkan doa 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Hang Nadim Batam memprediksi rendahnya curah hujan sejak bulan Februari hingga akhir Maret 2020 nanti.

Jika tidak turun hujan, maka petaka krisis air bersih cepat terjadi. Hal ini akan berdampak serius bagi kelangsungan hidup di kota pulau industri ini.

BP Batam Siapkan 3 Alternatif Solusi

Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama PT Adhya Tirta Batam (ATB), menyiapkan langkah antisipasi terhadap ancaman krisis air. Tanpa antisipasi, maka 6 Juli 2020, Dam Duriangkang yang menyuplai 70 persen air di Batam, akan shut down.

BP Batam bersama ATB menyiapkan langkah rationing atau penggiliran air, memompa air dari Waduk Tembesi, hingga menyiapkan hujan buatan.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Binsar Tambunan.

“Kondisi sekarang memang Batam sangat kekurangan air hujan atau air baku. Kita mengantisipasi kondisi curah hujan,” ujar Binsar saat konfrensi pers di Bida Marketing BP Batam, Kamis (5/3/2020) pekan silam.

Diakuinya langkah yang disiapkan, mengantisipasi kelangkaan air selain rationing atau penggiliran, dengan melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).Ia melanjutkan mulai minggu depan, akan membicarakan dengan BPPT untuk menggunakan teknologi modifikasi cuaca penerapan teknologi TMC BPPT.

“Mereka sudah pernah melakukan, dari tidak hujan, menjadi hujan dengan menambah garam untuk mengubah arah angin,” ungkap dia.

Kajian pemilihan teknologi buatan, lanjutnya membutuhkan biaya lebih murah, atau sekitar Rp 100 juta. Dimana, dibutuhkan pelaksanaan kajian selama 14 hari kerja.

“Kita akan melakukan kajian secara cepat, untuk mengambil sikap”, tutupnya. **

Redaksi Batam Bicara

Komentari Berita

Most popular

Most discussed