oleh

Stok Waduk Air Batam Menipis, Presdir ATB: Warga Diminta Banyak Berdoa

Dam Duriangkang Mukakuning (gambar:istimewa)

Batambicara.ID | Waduk di wilayah Kota Batam kini ketersediaan air bakunya mulai mengkhawatirkan.

Debit air yang ditampung di 5 waduk saat ini mulai mengalami penyusutan.

Penyusutan yang paling drastis terjadi di Waduk Duriangkang, yang mensuplai 80 persen kebutuhan Kota Batam.

Kondisi terkini Waduk di Kota Batam bisa dipantai melalui dashbord sistem pengelolaan air terintergrasi milik PT Aditya Tirta Batam (ATB), sebagaimana melansir Kompas.

Sistem ini adalah teknologi terbaru milik perusahaan yang telah mengantongi hak paten dari Kemenkumham RI.

Alat ini menunjukan bahwa kondisi air di Waduk Duriangkang telah berada pada level minus 2,76 meter di bawah spillway.

Jika debit air berada di angka minus 3 meter di bawah spillway, maka suplai air bagi sekitar 200.000 pelanggan rumah tangga, bisnis dan industri di Kota Batam akan terganggu dan besar kemungkinan tidak bisa untuk disalurkan.

Presiden Direktur ATB, Benny Adrianto Antonius, Rabu (19/2/2020), membenarkan telah terjadinya penyusutan air bersih tersebut.

Untuk itu, Benny berharap agar masyarakat memohon doa kepada Tuhan agar Batam diberikan hujan.

“Mudah-mudahan Tuhan mendengarkan doa kita, hingga akhirnya Batam diberikan hujan dan ketersediaan air bersih bisa kembali bertambah,” kata Benny.

Benny mengaku saat normal, Dam Duriangkang dapat menampung air baku hingga volume 78.180.000 meter kubik, namun saat ini menyusut hingga -2,76 meter.

Penyusutan tersebut merupakan penyusutan terburuk sejak Dam itu dioperasikan pada tahun 2000 silam.

Benny juga menjelaskan berdasarkan dari penelitian LIPI Bandung, jika dalam bulan ini tidak juga turun hujan, maka air bersih yang bisa disuplai untuk masyarakat Batam keseluruhannya termasuk pada industri, perhotelan dan lainnya diperkirakan hanya sampai 5 April 2020 mendatang.

Berbeda dengan hasil penelitian, Balai Wilayah Sungai (BWS) yang memprediksikan jika tidak turun hujan dalam bulan-bulan ini, maka ketersediaan air bersih hanya bisa dirasakan hingga 5 Juni 2020 mendatang.

“Setidaknya dari penelitian keduanya, bisa diambil kesimpulan jika tidak ada turun hujan dalam bulan-bulan ini, maka ketersediaan air bersih hanya bisa dirasakan hingga 5 Mei 2020 mendatang,” imbuh Benny.

Lebih jauh Benny mengatakan, untuk Dam Duriangkan sendiri mampu memproduksi air bersih hingga 2.076 liter per detik.

Sementara untuk empat Dam lainnya, hanya bisa menghasilkan ratusan liter per detiknya.

Seperti Dam Mukakuning hanya 532 liter per detik, Dam Sei Ladi 248 liter per detik, Dam Sei Harapan 207 liter per detik dan Dam Nongsa hanya 54 liter per detik.

“Jadi jika Dam Duriangkang airnya terus menyusut, otomatis krisis air tidak bisa dielakan lagi,” papar Benny. (kb) **

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed