Kepulauan Riau

Pemda Kepulauan Riau sebaiknya fokus garap wisatawan domestik

Tanjungpinang (BATAMBicara) – Pengamat sektor pariwisata, Sapril Sembiring mengingatkan pemerintah daerah bersama pelaku usaha pariwisata di Provinsi Kepulauan Riau untuk fokus menggarap wisatawan domestik.

“Saya pikir potensi besar yang belum digarap maksimal adalah wisatawan domestik. Pemerintah pusat dan daerah masih fokus mendorong wisatawan asal Singapura berkunjung ke Lagoi, Bintan dan Nongsa, Batam, dengan segala keterbatasan,” kata Sapril, di Tanjungpinang, Kamis.

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia Tanjungpinang itu berpendapat travel bubble atau gelembung perjalanan wisata di kawasan terpadu pariwisata di Lagoi dan Nongsa belum berjalan maksimal.

“Jumlah wisatawan asal Singapura yang berkunjung ke Lagoi dan Nongsa dibatasi, kemudian tes usap sebanyak tiga kali bagi setiap wisman juga menjadi kendala,” ucapnya.

Sapril mengemukakan penyesuaian tarif sewa kamar hotel dan fasilitas lainnya di Lagoi dan Nongsa baru-baru ini membuat wisatawan domestik kurang tertarik karena dianggap mahal.

Padahal sebelumnya, wisatawan domestik mulai tertarik ke Lagoi dan Nongsa karena pemberlakuan diskon yang cukup tinggi. “Kalau mau garap wisatawan domestik semestinya harganya disesuaikan, tidak dinaikkan,” katanya.

Anggota Komisi II DPRD Kepri Rudy Chua, yang juga mantan pengusaha perhotelan, mengatakan, travel bubble sulit mendongkrak jumlah wisatawan asal Singapura berkunjung ke Lagoi dan Nongsa, karena kuota wisatawan dibatasi.

“Kuota wisatawan dari Singapura ke Lagoi dan Nongsa masing-masing 350 orang per minggu. Tentu ini jumlah yang sangat sedikit,” katanya.

Rudy menambahkan hambatan lainnya yakni pemberlakuan tes usap dengan metode PCR sebanyak tiga kali. Tes pertama saat mau berangkat ke Lagoi atau Nongsa. Kemudian setelah tiba di Pelabuhan Bandar Telani Lagoi dan Pelabuhan Nongsa Pura harus tes PCR lagi.

“Mau kembali ke Singapura juga harus tes usap PCR. Tentu ini memberatkan dan membuat tidak nyaman,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi Indonesia, khususnya Kepri dan Singapura menuju normal. Di Indonesia, pemerintah mulai membuka pembatasan sosial seperti perjalanan laut, udara dan darat tanpa tes antigen maupun PCR, namun bagi wisatawan asing tetap diperketat.

Sebaiknya, wisman tidak perlu lagi tes PCR ketika masuk ke Kepri, namun tetap harus diawasi.

“Singapura sendiri juga sudah mulai membuka pembatasan sosial yang sebelumnya cukup ketat. Warga Singapura dari perjalanan luar negeri hanya cukup tes antigen secara mandiri, kemudian hasilnya dilaporkan di situs resmi satgas,” katanya.
 

© 2021 ANTARA

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button