Kepulauan Riau

Nelayan Pengadah keluhkan tidak adanya fasilitas pengolahan hasil tangkap

Natuna (BATAMBicara) – Kepada Yayasan Masyarakat Peduli Perbatasan Indonesia (MPPI) Nelayan Desa Pengadah keluhkan kurangnya alat penunjang hasil tangkap mereka. Hal itu terungkap pada saat dialog Bakti Negeri bersama nelayan dengan tema Bangkit, Tumbuh Menuju Indonesia Maju yang dilaksanakan MPPI di Desa Pengadah, Natuna, Kepri, Rabu (23/2) kemarin.

“Terima kasih atas kunjungan MPPI ke Desa kami, kami berharap kegiatan diskusi seperti ini terus berlanjut,” kata Anggota Badan Perwakilan Desa Pengadah, Emil kepada ANTARA, Kamis (24/2)

Menurutnya, kegiatan diskusi yang membahas tentang permasalahan nelayan Desa Pengadah oleh MPPI dapat menjadi motivasi bagi warganya serta meningkatkan rasa nasionalisme.

“Semangat dan solusi serta cara berpikir seperti itu yang kami harapkan, saya selaku BPD yang penting warga saya diperhatikan, apa persoalan dan masalah bisa diatasi, itu saja,” kata Emil.

Selama diskusi berlangsung, kata Emil, terungkap beberapa persoalan yang dihadapi para nelayan diantanya, kesulitan dalam mengelola hasil tangkapan.

“Mayoritas Nelayan disini pekerja Bilis (Ikan Teri), selama ini mereka kesulitan dalam hal proses pengeringan, karena tidak ada oven pengering,” kata Emil.

Selain itu, Badri Nelayan setempat juga mengatakan tidak jarang hasil tangkapan mereka menjadi sia – sia karena kekurangan pasiltas penunjang seperti oven pengering.

“Tergantung cuaca, saat dapat banyak, cuaca tidak bagus bilisnya busuk, terpaksa dibuang,” ungkapnya.

Karena kondisi itu, mereka terpaksa harus menjual dalam kondisi segar kepada pengepul yang memiliki oven pengeringan bilis di daerah lain.

“Di daerah kami tidak ada, kita antar ke Desa Kelanga daerah Sujung disana ada bos penampungnya, jika kita bisa keringkan sendiri harga lebih mahal, bisa tiga kali lipat, minsalnya harga segar satu tong seratus ribu keringnya bisa tiga ratus ribu,” ujarnya.

Selanjutnya, persoalan tempat penampungan ikan sementara juga menjadi kebutuhan utama bagi Nelayan setempat.

“Khusus nelayan pancing ikan hidup seperti Kerapu, Sunu dan ikan hidup lainnya harus kita jual ke Sedanau karena tidak ada kerambah penampung, untuk mendirikan itu butuh modal besar,” kata Bardi

Selaku Perwakilan MPPI di Natuna, Cherman menyampaikan tujuan kunjungan mereka untuk memberikan semangat dan mendorong agar para nelayan tetap semangat serta mempererat persatuan bangsa dengan membawa pesan kebangsaan.

“Selain melakukan dialog kita juga menyerahkan bantuan sembako untuk meringankan beban saudara kita saat musim utara seperti sekarang ini,” kata Cherman.

Hal tersebut diakui para nelayan jika saat musim utara mereka tidak bisa melaut dan kesulitan mencari pekerjaan alternatif selama musim utara berlangsung mulai dari Desember hingga Maret.

“Setiap tahun kita seperti ini, saat musim utara tidak bisa melaut, karena itu, terima kasih kepada MPPI telah membatu kami berupa sembako,” ucap Rian.

Jembatan dermaga Semitan salah satu ikon Desa Pengadah menjadi tempat pertemuan para Nelayan bersama MPPI dihadiri sedikitnya 35 orang dalam acara tersebut.

Kegiatan ditutup dengan pembagian bendera merah putih kepada nelayan dan pemasangan secara simbolis pada pompong nelayan yang berada di pelabuhan Semitan, Desa Pengadah.

© 2021 ANTARA

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button