oleh

Hukum Membawa Anak Balita ke Masjid

Batambicara.ID | Saat melaksanakan ibadah shalat di masjid, sering diawali dengan imbauan agar tidak mengaktifkan alat komunikasi atau mengondisikan bagi jamaah yang membawa anak. Harapannya agar dapat melaksanakan shalat bisa khusyuk tanpa gangguan suara-suara dari alat komunikasi atau anak-anak yang bermain. 

Bahkan, tidak jarang pengurus masjid memarahi anak-anak yang masih gaduh dan membuat ramai pelaksanaan shalat. Yang lebih mengagetkan lagi ada beberapa masjid yang lebih terang dirilis jamaah membawa anak-anak saat ibadah shalat. Lalu, apakah anak-anak tidak boleh dibawa ke masjid? Apa Manfaat dan mudharat jika mereka belum baligh ikut serta dibawa ke masjid?

Secara formal syara’ tidak ada larangan membawa anak-anak ke masjid, bahkan hal itu harus dikeluarkan jika mereka mencapai mumayyiz.

Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunnah mengatakan meski shalat belum diperuntukkan bagi anak-anak namun walinya harus mengenalkan shalat kepada mereka. Terlebih, jika usia mereka mencapai tujuh tahun. Dalam beberapa edisi, jika mencapai sepuluh tahun dan tidak shalat, anak-anak boleh dipukul. Tujuannya, katakanlah Sayyid Sabiq, agar ia percaya beribadah dan sudah terbiasa saat baligh nanti.

Dalam sebuah hadis dari Amr bin Syu’aib dari kakeknya dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda. “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat mereka berusia tujuh tahun. Dan pukullah dia jika usianya mencapai sepuluh tahun dan pisahkanlah di antara mereka saat tidur. ”(HR Ahmad, Abu Daud, dan Hakim)

Terkadang dalam kitabnya, Sayyid Sabiq mengetengahkan hadis yang mengizinkan anak kecil saat shalat. Seperti, saat Rasulullah SAW menggendong cucunya, Umamah binti Zainab, saat shalat Subuh dan menempatkan cucunya itu kala rukuk dan sujud. Ibnu Hajar dalam Fatul Bari menyetujui bahwa hadis ini menjadi dalil diizinkannya anak-anak ikut shalat di masjid.

Anjuran membiasakan shalat untuk anak-anak disunahkan dalam shalat jamaah, termasuk di masjid. Hal ini didasarkan pada hadis tentang meletakkan saf shalat untuk anak-anak. Menempatkan mereka di ujung saf, guna tidak memutuskan saf orang dewasa atau saf paling belakang. Dalam hadis ini Rasulullah SAW melakukan shalat di rumah Abu Thalhah dengan memposisikan Anas (yang saat itu masih kecil) dan seorang anak yatim di belakangnya. Sementara, Ummu Sulaim di belakang kedua anak tersebut. 

Dalam riwayat lain dikatakan Rasulullah SAW shalat dengan Anas dan menempatkannya di sebelah kanan Dia. Dia juga shalat dengan Ibnu Abbas dan menempatkannya di sebelah kanan. Berdasarkan hadis ini, Syekh al-Albani meminta izin anak-anak seperti izin orang dewasa jika perlu mencukupi.

Saat mengimami para sahabat, Rasulullah pun membawa cucunya yang kala itu masih kecil, Hasan dan Husein. Dalam hadis dari Abdullah bin Syaddad dari pertemuan dia berkata, “Pada suatu shalat Rasulullah keluar. Dia membawa Hasan atau Husein, kemudian menyerahkan anak itu di depan saat akan shalat kemudian bertakbir. Namun, saat sujud, beliau cukup lama. Lalu, aku mengangkat kepala dan melihat anak-anak di atas punggung Rasulullah SAW. ”Selesai shalat, para sahabat bertanya,“ Wahai Rasulullah apa yang menyebabkan sujud jadi lama, kami menyangka engka menerima wahyu. ”

Rasulullah SAW bersabda, “Bukan, hanya saja cucuku ini naik ke punggungku. Dan aku tidak kehilangannya dengan cepat sampai dia puas. (HR Ahmad, Nasai, dan Hakim).

Anak-anak harus sudah aman di masjid dan tidak perlu dibagikan. Hadist “Hendaknya orang yang berada di belakangku adalah orang dewasa dan berilmu di antara kalian,” menurut penjelasan Syekh Shalih al-Utsaimin, adalah anjuran agar orang dewasa dan berilmu maju sebagai Rasulullah (imam). Ini juga bukan larangan, hanya disediakan anjuran. 

Bahkan, jika anak-anak dikumpulkan di dalam brankas khusus di belakang, mereka akan membuat keributan dan mengatur jalannya shalat. Jika mengundang anak tersebut membuat ribut, Syekh Utsaimin menyerahkan anak-anak ke masjid. Wali atau orang tua yang membawa anaknya hendaknya pulang, agar jamaah lain tidak merasa terganggu untuk beribadah. Jika orang tuanya tidak mengerti, harus mencoba anak yang dikeluarkan dan dinasihati dengan halus dan tidak menghardik. **

Gambar utama: Cara mendidik shalat anak-anak di saf belakang dengan cara mengawasinya, (salah satu masjid di Kota Batam).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed