oleh

Erdogan dan Warga Turki Kutuk Majalah Charlie Hebdo serta Boikot Produk Perancis

BATAMBicara | Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan warganya untuk memboikot produk-produk Prancis. Seruan ini terkait perseteruan antara Erdogan dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Keduanya berseteru karena sikap Emmanuel Macron protes terhadap pembelaan Presiden Emmanuel Macron atas hak untuk menunjukkan kartun Nabi Muhammad.

“Sekarang saya menyerukan kepada bangsa kita, sebagaimana yang telah terjadi di Prancis untuk tidak membeli merek-merek Turki, maka saya menyerukan kepada bangsa saya di sini dan mulai sekarang: jangan perhatikan barang-barang berlabel Prancis, jangan beli barang-barang itu,” tegas Erdogan, dalam rilisan CNN Internasional.

Dalam himbauan yang di seruan Presiden Erdogan itu tentu berimbas luas termasuk ke produk-produk otomotif berlabel Prancis yakni Renault, Dacia dan Peugeot. Pasalnya hingga kini ketiga merek itu mendominasi sepuluh besar produsen mobil favorit di Turki.

Kartun nabi itu pula yang dipertontonkan guru kepada para muridnya dalam diskusi kebebasan berekspresi di kelas sebuah sekolah di pinggiran Paris. Guru bernama Samuel Paty tersebut akhirnya dibunuh dengan cara dipenggal pada 16 Oktober lalu oleh remaja Chechnya yang mengungsi di Prancis.

Erdogan dan warga Turki juga mengutuk keras aksi majalah mingguan satir Prancis, Charlie Hebdo yang menerbitkan karikatur Presiden Racep Tayyip Erdogan.

Juru Bicara Presiden Turki, Fahrettin Altun mengatakan gambar-gambar yang diterbitkan itu sangat tercela.

“Kami mengutuk upaya paling menjijikkan dari publikasi ini untuk menyebarkan rasisme budaya dan kebencian,” tulisnya dalam rangkaian utas di Twitter, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (28/10).

Selain gambar yang tak pantas, Altun mengatakan bahwa majalah Charlie Hebdo sama sekali tidak memiliki rasa kemanusiaan.

Dia juga menuduh bahwa produk tersebut berasal dari lingkungan budaya xenofobia, Islamofobia, dan intoleran seperti yang diinginkan kepemimpinan Prancis ke negara mereka.

Dalam utas itu, Altun menggarisbawahi bahwa posisi Turki yang menentang setiap kekerasan dan tindakan terorisme terhadap warga sipil.

“Kami tidak akan tinggal diam dalam menghadapi serangan menjijikkan terhadap budaya dan agama kami, tidak peduli dari mana asalnya,” kata dia.

Meski begitu, dia menyatakan bahwa Turki tidak akan melakukan hal yang serupa sebagai pembalasan. Altun kemudian menyerukan agar negara-negara Eropa untuk melawan tindakan rasisme yang dilakukan Prancis. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed