oleh

Teknologi Industri Pertanian Indonesia Tertinggal, Pengamat Ekonomi: Tertinggal di Era Digitalisasi

BATAMBicara | Jakarta – Di era digitalisasi saat ini semua faktor kehidupan dan sosial harus bisa menyeimbangi, agar ketertinggalan tidak terbelakangkan. Serta didukung penuh dalam mengembangkan hasil tersebut, terutama di bidang perekonomian.

Pengamat Ekonomi Bhima Yudistira, menyebut teknologi pertanian di Indonesia masih rendah. Sebab, kesadaran teknologi di kalangan petani masih minim sekali. Apalagi petani yang berada dipedalaman desa.

Ia berpendapat, ketika revolusi digital, banyak teknologi pertanian yang masih belum maju. Rendahnya tingkat pendidikan dan minimnya pelatihan penggunaan teknologi modern merupakan faktor utama sektor pertanian masih bersifat tradisional.

“Di level daerah pendidikan banyak yang tamatan SMP ke bawah. Selain itu, memang diperlukan bantuan dari pemerintah. Seperti, pelatihan teknologi terbaru,” ungkapnya di kutip Liputan6.

Bhima menyarankan pemerintah melakukan kerjasama bidang pertanian dengan sektor swasta terkait penggunaan teknologi yang tepat guna.

Harapannya, di situ pemerintah bisa memfasilitasi pelaku usaha dengan CSR-nya (Corporate Social Responsibility) dengan bantuan-bantuannya. Intinya teknologi penting tapi tepat sasaran.

“Semua faktor disitu harus mendukung, terutama pemerintah. Harus memberikan semacam pelatihan serta membantu petani agar memudahkan pasaran hasil panennya,” jelas pengamat muda ini yang merupakan pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ini. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed