oleh

Rakyat Minang Menolak Bayar Pajak

LEBIH BAIK PERANG DARIPADA MEMBAYAR PAJAK

Minang Menolak Bayar Pajak
Tugu Peringatan Perang Kamang, (deskgram.net).

Batambicara.id (25/5/2019) | Beberapa waktu yang lalu, publik dihebohkan dengan mengundang Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arif Poyuono. Dilansir suara.com, Arif meminta masyarakat tidak membayar pajak untuk pemilihan presiden 2019.

Dalam sejarah, aksi penolakan membayar pajak pernah terjadi di Sumatra Barat. Pada tahun 1908, rakyat Minang yang menyetujui kebijakan pemerintah Hindia Belanda menaikkan pajak. Sekitar seribu orang terlibat. Lebih dari mereka luka berat, namun tak sedikit yang meninggal dunia.

“Yang menjadi alasan pemberontakan itu adalah peraturan yang diadakan oleh pemerintah Hindia Belanda, yang mewajibkan rakyat Minangkabau membayar pajak langsung,” kata Mohammad Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku.

Mula Peristiwa

Pada Oktober 1888, pemerintah Hindia Belanda mendapat izin dari pemerintah pusat di Den Haag. Mereka dimintai pertanggungan jawab atas penurunan budidaya kopi di wilayah Sumatra. Dalam pertemuan itu disetujui pemerintah akan mengganti pajak pertanian dan mengenakan pajak perorangan untuk seluruh rakyat Minang. Itu dilakukan untuk menghilangkan kerugian kualitas kopi dari Sumatra yang menurun dan pemasukkan dari cultuurstelsel (tanam dipaksa) yang terlampau kecil.

Untuk menghindari konflik, Gubernur Sumatra Barat WJM Michielsen meminta peraturan baru yang disetujui. Mulanya diadakan jajak pendapat untuk membahas tentang rakyat akan pajak perorangan yang akan diberlakukan.

“Praktis para wakil (rakyat) menolak pajak karena ekonomi yang berat. Kalau toh ada yang tidak ganti, ini lebih karena takut pada para penghulu kepala (baca: Belanda)”, tulis Rusli Amran dalam Pemberontakan Pajak 1908.

Michielsen berusaha menjelaskan alasan pemerintah mengambil kebijakan itu. Namun rakyat tidak mendengarnya karena takut pajak itu akan memberatkan lolos. Pindah pemerintahan yang berubah menjadi panas. Malah di beberapa tempat terjadi aksi anarkis yang membuat geram pemerintah.

Gubernur tetap memberlakukan pajak perorangan. Dia dipanggil tentara bersiaga manakala terjadi pemberontakan.

Pada 1897, rakyat mulai bergerak menyetujui kabar perlawanan. Melalui para tokoh kharismatik, mereka berusaha mengumpulkan kekuatan dari berbagai daerah. Menurut laporan Residen Prins dalam “Surat Rahasia” No. 67 tahun 1897, salah satu tokoh yang menentang adalah Tuanku Padangganting.

Tuanku Padangganting merupakan murid bekas Tuanku Syekh Nuruddin dari Tilatang, yang dikenal sebagai ulama Kotolaweh. Tuanku Padangganting menyiapkan sekitar 600 orang Aceh di bawah pimpinan Teuku Husin. Dia berencana membuat di Padangpanjang dan Padang pada 1 Agustus 1897.

Puncak Perlawanan

Rencana itu digagalkan setelah guru Tuanku Padangganting, Yunus Tuanku Sutan, membocorkannya. Pemerintah memenangkan Tuanku Padangganting dan beberapa tokoh lainnya.

Setelah acara itu, Michielsen menerima instruksi dari Menteri Jajahan Negeri Belanda: “jangan pernah menggunakan pajak langsung dari sistem kerja paksa kopi!” Belanda khawatir tentang memengaruhi rakyat Minang saat mereka memusatkan kekuatannya di Aceh.

Karena pemberontakan pertama digagalkan, diselesaikan di Sumatra Barat terus meningkat. Pemerintah semakin memperketat penjagaan di sejumlah tempat, terutama Kamang, Agam, Tilatang, dan Banuampu.

Namun, rakyat Minang semakin gencar membutuhkan penyerangan. Pedagang asal Pahambatan (Agam), Angku Haji Saidi Mangkuto, menjadi tokoh penting dalam gerakan pemberontakan kedua. Dia beberapa kali menginisiasi rapat sembunyi para penghulu andiko (tokoh masyarakat) di Agam. Keyakinkan rakyat untuk mengganti pajak pun semakin besar.

Namun, seorang penghulu membocorkan informasi rapat sembunyi itu kepada pemerintah. Pada 22 Maret 1908, pemerintah mengumpulkan para penghulu andiko. Minang. Sekitar 3.000 penduduk turun ke jalan. “Di mana-mana beduk ditabuh, didukung penduduk, ramai-ramai unjuk rasa ke Bukittinggi,” tulis Rusli.

Mereka mendatangi kantor kontrolir yang meminta pembebasan penghulu daniko segera memenangkan pembayaran pajak. Pada 26 Maret 1908, para penghulu menunggu dan menunggu di pengadilan. Namun, saat hari yang dijanjikan tiba, para penghulu andiko malah dibawa ke penjara di Padang.

Rakyat yang geram kembali unjuk rasa di Bukittinggi. Pemerintah mengeluarkan tentara. Memenangkan banyak rakyat terluka.

Keadaan serupa terjadi di Laras Kamang. Daerah paling utara kecamatan Agam menjadi yang terdepan dalam menolak pajak. Tokoh Kamang, Kari Mudo, paling vokal menyuarakan ditolak. Dia meminta rakyat agar mengeluarkan sepeser pun untuk pajak.

Pada 20 April 1908, pejabat pemerintah datang ke Kamang untuk memberi tahu rencana pemungutan pajak perorangan. Namun, pejabat daerah Kamang yang menyetujui dipermalukan pemerintah. Meskipun pidato Kari Mudo, yang kemudian mati, telah menghina pemerintah.

Merasa di atas angin, Kari Mudo mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat khusus untuk Belanda. Sertakan Haji Abdul Manan, ulama terkemuka di Bukittinggi. Selama Mei-Juni, dia berhasil mengumpulkan massa yang sangat besar dari berbagai daerah.

“Haji Abdul Manan memberikan pidato terakhir sebelum konfrontasi lawan Belanda. Dia meminta semua jangan ragu-ragu mati sahid, ”tulis Rusli.

Pada 16 Juni 1908, pemerintah mengeluarkan perintah menyerang Kamang. Tindakan diambil setelah mata-mata melaporkan bahwa penduduk Kamang telah menyusun rencana pemberontakan.

Sebanyak tiga pasukan, masing-masing 50 tentara, dikerahkan dari Bukittinggi. Dari laporan kontrolir tanggal 25 Juni 1908 No. 1012/8, diakui bahwa Kamang berubah menjadi medan pertempuran yang besar. Sekitar seribu orang meningkat. Jumlah korban di pihak populasi lebih dari 200 orang. Sementara korban tewas di pihak Belanda hanya sembilan orang.

Namun sumber lain, 70 Tahun Perang Kamang Manggopoh: Peringatan Perlawanan Rakyat Indonesia di Minangkabau, menyebut tentara Belanda yang ditolak tidak kurang dari 425 orang. **

(Gambar utama : arsip Minangkabau/google)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed